Hadir Pembukaan TMMD 103, Danrem dan Plt Bupati BM di Sambut Tari Guel

 

Redelong, Baranewsaceh.co – Menghadiri pembukaan TNI Manungal Membangun Desa (TMMD) ke-103 Tahun 2018, Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Purmanto dan Plt Bupati Bener Meriah Tgk. H. Sarkawi di peuseujuk dan disambut Tari guel oleh pelajar setempat, di Lapangan Bola Kampung Blang Jorong, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, Senin (15/10).

Tari guel merupakan dari gabungan seni sastra, musik dan seni tari salah satu khas budaya Gayo, khususnya di daerah dataran tinggi gayo Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Provinsi Aceh. Tari ini sering digunakan sebagai menyambut tamu kehormatan maupun acara kebesaran di daerah Gayo.

Upacara pembukaan TMMD ke-103 Tahun 2018, yang bertemakan “TNI Manunggal Rakyat Dalam Mewujudkan Desa Yang Maju, Sejahtera dan Demokratis” secara resmi dibuka oleh Plt. Bupati Bener Meriah Tgk. H. Sarkawi, di Lapangan Bola Kampung Blang Jorong, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah.

Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Purmanto mengatakan, Kegiatan TMMD ke-103 tahun 2018, akan dilaksanakan selama 30 hari terhitung mulai Tanggal 15 Oktober sampai dengan 13 November di 3 (Tiga) Wilayah terpisah, yaitu di Desa Tembolon, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, dan di Desa Mendale Kecamatan Kebayakan, serta di Desa Telege Sari Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah.

Selain itu, pelaksanaan TMMD ke-103 di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah Wilayah Kodim 0106/Aceh Tengah jajaran Korem 011/Lilawangsa meliputi Dua sasaran yaitu sasaran Fisik seperti pembukaan jalan sepanjang 5.500 X 6 meter, pembuatan jembatan sebanyak 3 titik, pemasangan Gorong-gorong sebanyak 2 titik, penataan tanggul sepanjang 135 M, normalisasi tebing sungai sepanjang 2.390 meter, perehapan rumah tidak layak huni 1 unit.

Sedangkan sasaran dan Non fisik Diantaranya, melaksanakan kegiatan pengobatan massal, penyuluhan kesehatan, hukum, Wasbang, Pertanian dan Narkoba kepada warga masyarakat, Pungkas Danrem.

Acara pembukaan TMMD 103, turut dihadiri antara lain, Kapolres BM AKBP Fahmi Irwan Ramli, SH, SIK, Kapolres Ateng AKBP Hairajadi, SH, Danyonif 114/SM Letkol Inf Mulyadi, ST, Kajari BM Rahmat Azhar, SH,MH, Sekda Kab. BM Drs. Ismarisiska, MM, Ketua MPU Kab. BM Tgk. Almujani, Wakil Ketua II DPRK BM Andi Sastra, serta ratusan personel TNI/Polri jajaran Korem 011/LW, sejumlah Intansi dari Pemerintahan Kabupaten Bener Meriah, serta ratusan Pramuka, Pelajar dan Masyarakat yang antusias hadir mengikuti acara tersebut. (Red)




Jembatan Paya Kolak Kecamatan Celala Sudah Bisa di Lalui

 

Aceh Tengah, Baranewsaceh.co – Ruas Jalan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Nagan Raya, sempat terputus akibat amblasnya jembatan kampung Paya Kolak kecamatan Celala Kabupaten Aceh Tengah.

Pagi ini Selasa.(16/10) sekitar pukul 09.00 wib. Jembatan yang terputus, akhirnya sudah bisa di lalui kembali oleh kenderaan roda 2 (dua) dan roda 4 (empat). Setelah pemuda Kampung Paya Kolak di bantu Babinsa setempat melakukan penimbunan secara swadaya.

Fery (20) sumber Baranewsaceh di lokasi kejadian menjelaskan. Akibat terputusnya jembatan Paya Kolak hubungan Takengon – Nagan Raya, tadi malam sempat lumpuh beberapa jam, dan terlihat sejumlah kenderaan roda 2 (dua) dan roda 4 (empat) terlihat antri dan tidak bisa melewati jembatan tersebut.

Menanggapi persoalan tersebut Fery (20) yang merupakan salah seorang tokoh masyarakat silih Nara, menghimbau pihak BNPD untuk segera turun tangan, agar hubungan Takengon – Nagan Raya lancar seperti semula. Pintanya.(DN)




Ismuddin Renggali Linge Menuju DPRA – Aceh

Bener Meriah, Baranewsaceh.co – Ismuddin atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan “Renggali” adalah mantan combatan Panglima muda daerah IV wilayah Linge tahun 2002 – 2005, semasa Aceh dan Gayo di Landa konflik. Sosok tangguh dan pemberani ini, juga memiliki karakter diri yang penuh ulas asih. Maka tak heran jika seorang Ismuddin mampu beradaptasi dan berkomunikasi dengan semua etnis yang ada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Ismuddin merupakan salah seorang putra terbaik dataran tinggi Gayo yang akan melaju sebagai calon legislatif (caleg) DPRA Aceh dari Partai Aceh dengan nomor urut 1 untuk daerah pemilihan (dapil) 4 Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Ismuddin tak ubahnya seperti mata uang dua sisi yang mampu menjembatani dua Kabupaten sekaligus yaitu, Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Lahir di kampung Kenawat Redelong pada 11 November 1974, anak dari pasangan ayah M. Jamad Asri dan ibu Kasum Remantan. Masa kecil seorang Ismuddin tumbuh dan di besarkan di Kampung Kenawat Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah, dengan latar belakang pendidikan sebagai berikut :

MIN Kenawat pada tahun 1987, kemudian melanjutkan ke MTsN Simpang Tiga Redelong tahun 1990. Sementara untuk tingkat menengah, Ismuddin merupakan alumni MAN 1 Takengon tahun 1993. Selanjutnya seorang Ismuddin juga pernah menduduki bangku kuliah pada Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) kota Banda Aceh.

Sebagai ketua partai Aceh Kabupaten Aceh Tengah sejak tahun 2010 sampai sekarang. Kali ini Ismuddin akan menguji peruntungan dalam Pileg tahun 2019. Ismuddin maju menjadi calon legislatif DPRA Aceh, tentu lewat partai yang di pimpinnya. Partai Aceh.

Keseharian seorang Ismuddin, disamping kesibukannya sebagai ketua Partai Aceh Kabupaten Aceh Tengah. “Aman Khansa ” adalah gelar adat yang diperolehnya saat putri cantiknya “Khansa Sabiha” terlahir ke dunia, yang menandakan Ismuddin adalah seorang ayah bagi Putri tercinta.

Dukungan keluarga, sahabat, serta rekan seperjuangan mengalir deras yang berujung pada keyakinan diri yang disertai tekad kuat, peduli akan tanah Gayo, pantas dan layak, juga berani menentukan sikap untuk maju sebagai calon legislatif untuk DPRA Aceh. Tentu di balik itu semua, peran seorang istri “Amalia” merupakan mutivator yang selalu memberikan Sugesti untuk berbuat dan mengabdi untuk Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Akankah pesona Reggali Linge ini akan mampu meraih 1(satu) kursi dari 6 (enam) kursi yang tersedia dari dafil 4 (empat) Aceh Tengah dan Bener Meriah…?. Renggali Linge ini, kini tengah menebarkan aroma harum semerbak kuncup bunga kopi, menusuk di angka 1 pada lembaran kertas putih yang bertulis Komisi Independen Pemilihan, calon legislatif DPRA – Aceh.

Sekilas fropil dari salah seorang kontestan calon legeslatif (caleg) DPRA Aceh yang mewakili Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah “Ismuddin” saat duduk bersama Baranewsaceh.co di pelataran parkir Gedung DPRK Bener Meriah. Rabu 10 Oktober 2018. (DN)




Tingkatkan Kinerja PPID, Diskomintel Aceh Gelar Rakornis di Takengon


Liputan : Fathan Muhammad Taufiq *)

BARANEWSACEH.CO, ACEH TENGAH  – Untuk menyatukan persepsi bagi para Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) dari seluruh wilayah provinsi Aceh dalam meberikan pelayanan informasi publik, selama dua hari ini, Rabu dan Kamis ( 10-11 Oktober 2018) Dinas Komunikasi, Telematika dan Persandian Aceh, menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) PPID Aceh bertempat di Hotel Bayu Hill, Takengon. Acara yang diikuti oleh 46 PPID Utama dan PPID Pembantu dari 23 Kabupaten/Kota se provinsi Aceh dan 10 PPID terpilih dari jajaran SKPA ini dibuka tadi pagi oleh Asisten Administrasui Umum Setdakab. Aceh Tengah, Drs. Rijaluddin, MM, mewakili Bupati Aceh Tengah.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten III tersebut, Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar mengungkapkan perlunya penguatan kelembagaan PPID dalam rangka optimalisasi pelayanan informasi publik untuk mencapai pemerintahan yang bersih, tranparan dan akuntabel. Lebih lanjut Bupati menyatakan bahwa saat ini masyarakat semakin kritis terhadap informasi yang disampaikan oleh pemerintah, sehingga pelayanan informasi kepada masyarakat harus semakin terbuka dan akuntabel.

“Kontrol sosial dari masyarakat berupa kritik kunstruktif memang dibutuhkan sebagai penyeimbang, ini menjadi tantangan bagi PPID untuk mampu memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat di bidang data dan informasi sehingga tidak terjadi miskomunikasi dan gap antara pemerintah dengan masyarakat, ini penting untuk menjaga stabilitas pembangunan di daerah” ungkap Rijaluddin yang membacakan sambutan Bupati.

Untuk itu Bupati Aceh Tengah menghimbau agar PPID di semua jajaran pemerintah dapat bekerja maksimal untuk memberikan pelayanan terbaik kepada publik sebagai implementasi dari Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kumunikasi, Telematika dan Persandian Aceh yang diwakili oleh Kepala Bidang PLIT, Zal Supran, ST, M Si mengungkapkan bahwa saat ini seluruh informasi harus dibuka kepada publik, kecuali infiormasi yang sifatnya rahasia dan dikecualikan. Transparansi pemerintah pada saat ini menjadi hal yang sangat niscaya, karena keterbukaan inmformasi publik merupakan salah satu upaya untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi. Lebih lanjut Zal mengungkapkan bahwa PPID memiliki tugas berat untuk mensukseskan Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, itulah sebabnya isu tersebut kemudian dijadikan tema dari Rakornis ini.

“Dengan adanya keterbukaan informasi publik, masyarakat memiliki kesempatan untuk memantau jalannya pemerintahan, dan ini dapat meminimalisir terjadinya tindak penyimpangan dan korupsi karena setiap kegiatan pemerintah dapat dipantau langsung oleh masyarakat” ungkap Zal.

Zal juga mengungkapkan bahwa salah satau cara efektif untuk menyampaikan informasi kepada publik adalah dengan memanfaatkan wbsite di instansi masing-masing, karena akan lebih mudah diakses oleh masyarakat yang saat ini rata-rata sudah familiar dengan perangkat teknologi informasi.

“Kami berharap penyebaran informasi melalui website lebih dioptimalkan, jangan sampai website yang sudah dibuat oleh setiap instansi justru tidak memuat informasi apapun, ini sangat fatal” ungkap Kabid PLIT Diskomintel Aceh yang juga mantan Kepala  Dinas Kominfo Abdya ini.

Sementara itu Kepala Dinas Kominfo Aceh Tengah, Harun Manzola, SE, MM yang bertindak sebagai tuan rumah sekaligus panitia penyelenggara, dalam laporannya mengakui bahwa sampai saat ini pelayanan informasi kepada publik saat ini belum optimal dan digelarnya Rakornis ini adalah sebagai salah satu upya untuk meningkatkan pelayanan infoprmasi publik oleh PPID yang sudah dibentuk pada semua instansi dan lembaga pemerintah pada semua strata pemerintahan. Harun berharap, semua peserta baik dari PPID SKPA maupun Kabupaten/Kota dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Rakornis ini, sehingga hasilnya dapat diterapkan di daerah masing-masing.

Selain pemateri dari Dinas Komiunikasi, Telematika dan Persandian Aceh, dalam Rakornis kali ini juga mengundang nara sumber pakar informasi publik dari Universitas Indonesia, Dr. Henny. S. Widyaningsih yang merupakan mantan komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) tahun 2009 sampai 2017.

Dalam acara pembukaan Rokornis tadi pagi, selain pserta dari provinsi dan 23 kabupaten/kota se Aceh, juga turut hadir para kepala SKPK Aceh Tengah terkait dan Kkepala RRI Takengon. Sementara tadi malam (9/10/2018), bertempat di Merabata Coffee, pakar informasi publik yang menjadi nara sumber dalam rakornis ini, didampingi para kabid dari Dinas Komintel Aceh dan Dinas Kominfo Aceh Tengah juga melakukan dialog interaktif yang disiarkan langsung oleh RRI Takengon.

Saat berita ini diturunkan, Henny S Widyaningsih sedang menyampaikan paparan dihadapan para peserta rakornis. Menurut pakar informasi publik ini, Aceh menjadi salah satu daerah yang menjdai perhatiannya, karena keterbukaan informasi publik di Aceh termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia. (FMT)




Nurdin Ali, Caleg Hanura yang Kibarkan Kerawang Gayo ke Manca Negara


Takengon, Baranewsaceh.co – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan partai politik peserta Pemilu 2019 mendatang. Sebanyak 20 partai politik telah mengantongi nomor urut untuk berkompetisi dalam Pemilu yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019.

Masyarakat Indonesia nantinya tidak hanya memilih Presiden dan Wakil Presiden tapi juga legislatif lainnya. Nurdin Ali, Pria berdarah Gayo Kelahiran Kampung Uning, 28 Desember 1965 merupakan salah satu Calon Legislatif (Caleg.Red) untuk DPRA Daerah Pemilihan (Dapil) 4 mewakili Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah melalui Partai Hanura no urut 2. Suami dari DR.Binahayati yang berprofesi sebagai Dosen UNPAD ini adalah sosok yang syarat pengamalan bekerja dan berorganisai baik level Nasional dan Internasional, seperti IOM, Conservation Internasional dan menjadi Anggota Kadin Amerika Serikat serta sekretaris Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) periode 2010-2014.

Nurdin Ali yang memiliki latar belakang pendidikan Tehnik Informatika dari ST INTEN Bandung ini selalu konsen mempromosikan “Kekayaan” Gayo ke berbagai Daerah dan Negara diantaranya hasil pertanian unggulan Aceh Tengah Yaitu Kopi yang menjadi magnet untuk para wisatwan berkunjung ke Gayo serta Kerawang Gayo salah satu budaya Indonesia yang telah di tetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Warisan Budaya tak benda yang sejak tahun 2014 yang lalu.

Kerawang gayo adalah hasil cipta dan karsa masyarakat gayo sebagai konsep horizontal antara sesama manusia, bentuk ukirannya merupakan ornamen alam yang menjadi symbol dan identitas yang lahir dari cipta dan karsa manusia yang menjadi nilai estitika dalam perilaku kehidupan.

Dalam perbincangan melalui Video Call pada hari Senin 8 Oktober 2018, Nurdin Ali yang saat ini berada di Negeri Paman Sam Amerika Serikat Mengibarkan Kerawang Gayo mengatakan bahwa “ Tujuan saya maju sebagai Calon Legislatif untuk DPRA dari Dapil 4 melalui Partai Hanura yaitu berjuang di parlemen untuk Kepentingan Tanoh Gayo, Baik Itu di bidang Ekonomi, Pendidikan dan Lingkungan.” Lebih lanjut, kata Nurdin Ali “Banyaknya putra-putri gayo yang menempuh pendidikan di luar gayo karena rendahnya mutu pendidikan kita saat ini, begitu juga halnya dengan lingkungan yang harus di perjuangkan agar tetap terjaga, serta perlunya pemetaan pertanian yang komprehensif untuk kesejahteraan masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan secara otomatis meningkatkan PAD dari sector ini,” Jelas pria yang pernah sebagai pegawai PT Industri Pesawat Terbang Nusatara (IPTN) selama 13 tahun Mulai Sejak tahun 1990-2003. (Riega)




Rijal Fahlevi Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PBSI Bener Meriah

Bener Meriah, Baranewsaceh.co – Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) Kabupaten Bener Meriah Menggelar Musyawarah Kabupaten Luar Biasa (Muskablu) yang berlangsung di Aula Setdakab Bener Meriah. Sabtu (06/10).

Adapun agenda dari musyawarah tersebut adalah pemilihan ketua baru setelah ketua lama atas nama Ridwan.Spd yang baru menjabat 4 bulan yang lalu, mengundurkan diri dengan alasan keterbatasan waktu.

Hasil dari Muskablu tersebut menetapkan Rijal Fahlevi “anggota DPRK Bener Meriah” terpilih secara aklamasi sebagai ketua PBSI Bener Meriah, Priode 2017 – 2021.

Ketua panitia muskablu Ediyaksa dalam laporannya menjelaskan. PBSI Bener Meriah sempat mengalami Kekosongan jabatan ketua, akibat pengunduran diri Ridwan.Spd sebagai ketua PBSI Bener Meriah. Hal ini sangat berdampak pada  pembinaan atlet kedepan. Atas dasar itulah di pandang perlu untuk melakukan Muskablu.

Sementara menyangkut anggaran penyelenggaraan Muskablu ini bersumber dari para pemerhati bulu tangkis Bener Meriah dan para simpatisan yang sipatnya tidak mengikat. Selain itu Ediyaksa juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terlaksananya acara ini.


Ketua Umum PBSI Aceh H. Nahrawi Noerdin.SE. dalam sambutannya mengatakan. Semua yang hadir dalam acara ini akan dicatat dalam sejarah bahwa setelah Muskablub Bener Meriah akan membawa PBSI Aceh untuk terus berbenah membangun PBSI Aceh agar lebih baik dan lebih maju kedepan. Kita harus bertekad, harus saling bahu membahu untuk memajukan PBSI Aceh. Selamat atas pelaksanaan Muskablub Bener Meriah, dan saya yakin Bener Meriah kedepan pasti bisa memiliki atlet-atlet yang dapat mengharumkan PBSI Bener Meriah dan Provinsi Aceh di level Nasional dan dunia.

Disisi lain ketua Koni Bener Meriah Ahmadi.SE yang di wakili ketua harian Darwinsah mengucapkan selamat melaksanakan Musyawarah Kabupaten Luar Biasa (Muskablub) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Bener Meriah Tahun 2018.

Selain itu Darwinsah juga mengatakan. Dengan dilasanakannya Musyawarah Kabupaten Luar Biasa (Muskablub) PBSI Kabupaten Bener Meriah Tahun 2018. Kita berharap kedepan adanya kepengurusan yang jelas. Selain itu PBSI Bener Meriah diharapkan mampu membina para atlet agar mampu berprestasi.

Darwin juga mengatakan untuk sementara KONI belum memiliki anggaran. Kita akan berusaha untuk memperjuangkannya melalui lembaga DPRK Bener Meriah melalui anggaran perubahan Tahun 2018.

Hasil Muskablu Bener Meriah menetapkan Rijal Fahlevi anggota DPRK Bener Meriah, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PBSI Bener Meriah periode  tahun 2017-2021. Secara bersamaan juga di lakukan penyerahan Bendera Pataka dari Ketua Umum PBSI Prov Aceh kepada Ketua Umum terpilih PBSI Kabupaten Bener Meriah.

PBSI Provinsi Aceh juga memberikan dana pembinaan kepada PB Razawali dari Kabupaten Bener Meriah dan PB Aman Dimot dari Kabupaten Aceh Tengah.(DN)




Dua Orang Sahabat Karib Yang Terpisah Oleh Waktu

Takengon Baranewsaceh.co. – Sirajuddin anggota DPRK Aceh Tengah merasa sangat terpukul sekali setelah mendengar kabar duka cita atas berpulangnya ke Rahmatulah seorang sahabat dekat sesama anggota DPRK Aceh Tengah Yurmiza Putra.

Kedekatan antara Sirajuddin dan Yurmiza Putra, bahkan sudah teramat dekat sekali seperti abang dengan adek. Bahkan menurut Sirajuddin anaknya Winja (Ona) sudah menjadi anak saya. Jelasnya saat Baranewsaceh.co hubungi  melalui selulernya. Jumat (05/10) sekira pukul 14.30 wib.

Kini kedua orang sahabat yang sudah menjadi saudara dekat itu harus berpisah oleh waktu. Takdir berkata lain, Winja telah tiada, telah pergi untuk selama lamanya.

Almarhum Yurmiza putra atau yang lebih akrab di safa Winja menghembuskan nafas terakhir pada hari Jumat 5 Oktober 2018 di Jakarta. Berdasarkan informasi yang berhasil Baranewsaceh.co himpun. Jenazah Yurmiza putra akan dibawa pulang ke Takengon dan akan di kebumikan di Takengon.

Berikut petikan puisi duka seorang Sirajuddin untuk melepas kepergian seorang sahabat terdekatnya Yurmiza Putra.

Sudah takdir………
Kita seperti dua nyawa satu jiwa
Kemarin kita masih tertawa
Hari ini…..
Aku tidak mampu berkata apa
Kau tinggalkan aku
Menemui sang kaliq
Aku menangis di antara
Sebuku anakmu ONA.

Innalillahiwainailahirajiun
Selamat jalan “Sebetku”
Air mataku adalah do’aku
Semoga kita bertemu di surga.
Amin…. Yarabal alamin….

Disisi lain seorang tokoh masyarakat Gayo asal Bener Meriah di Jakarta M.Aris yang juga seorang politisi PAN. Melalui whatshapnya turut menyampaikan rasa duka cita sedalam dalamnya atas berpulangnya kerahmatullah Yurmiza Putra.

Gayo kehilangan Tokoh cerdas konsisten dan selalu berpegang pada regulasi dan aturan dalam menyelesaikan sebuah masalah. Tegasnya. M. Aris juga mengucapka Selamat Jalan Yurmiza Putra doa kami menyertaimu dan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi ujian ini. Pungkasnya. (DN).




Prof.Dr.KH. Maaruf Amin Akan Berziarah ke Makam Sisingamangaraja XII

*Juga akan ikuti HUT Kabupaten Taput,dan silaturahmi dengan Ephorus HKBP

Kutacane, Baranewsaceh.co – Prof.Dr.KH. Maaruf Amin yang merupakan Tokoh Nahdatul Ulama(NU)dan Ketua Majelis Ulama Indonesia(MUI) pusat, yang sekarang mencalonkan diri sebagai Calon wakil presiden Joko Widodo periode 2019-2024 akan melakukan ziarah ke Makam Pahlawan dari Tapanuli, Sisingamangaraja XII pada hari Jumat(5/10) besok. Sisingamangaraja XII yang merupakan Pahlawan Batak yang lahir di Bakara Kabupaten Humbang Hasundutan(sebelumnya Tapanuli Utara-red) disegani kolonial Belanda, karena kegigihannya dan gerilya bersama pasukannya melawan penjajahan.

Menurut informasi yang didapatkan Wartawan, bahwa Prof.Dr.KH. Maaruf Amin akan mengunjungi dan berziarah ke Makam Pahlawan nasional Sisisngamangaraja XII di Soposurung Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara. Sehabis ziarah, Prof.Dr.KH. Maaruf Amin akan menghadiri ulang tahun Kabupaten Tapanuli Utara(Taput) yang ke-73 di lapangan Serbaguna Tarutung, dan melihat pameran Stand dan pembangunan Kabupaten Tapanuli Utara.

Disamping itu, Prof.Dr.KH.Maaruf Amin akan bersilaturahmi dengan Ephorus Gereja HKBP, Pdt.Dr.Darwin Lumbantobing bersama staffnya di Kantor pusat HKBP Pearaja Tarutung.Gereja HKBP yang merupakan denominasi terbesar di Indonesia  dan Gereja aras nasional,yang jemaatnya mayoritas suku Batak,sudah lama menjalin hubungan dengan lembaga keumatan seperti NU, dan Muhammadiyah semasa Prof.Dr.Din Syamsudin .

Semoga kunjungan ziarah Prof.Dr.KH.Maaruf Amin berjalan lancar, dan merenungkan napak tilas Pahlawan kebesaran orang Batak Sisingamangaraja XII yang gigih dan gerilyanya kuat untuk mengusir penjajah,sampai imperialis Belanda mengirim pasukan elitenya Marsose untuk menumpas perjuangan Sisingamangaraja XII, dan mengikuti keberhasilan K.H. Abdurrahman Wahid(Gus Dur) yang adalah Tokoh NU menjadi pemimpin bangsa di NKRI tercinta ini.(P.Lubis/@Sib)




PWI Aceh Tengah Kumpulkan Donasi Untuk Palu

 

Aceh Tengah, Baranewsaceh.co – Wartawan Aceh Tengah yang berpayung dibawah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), melakukan pengumpulan donasi untuk masyarakat Palu serta Donggala, Sulawesi Tengah. Hasil sumbangan akan di salurkan melalui lembaga resmi yang ada di Aceh.

Kegiatan sosial atas keprihatinan Wartawan bersama penggiat lingkungan (Kayu Kul-red) selain difokuskan di tempat keramaian juga mencari donasi door to door di wilayah pinggiran kota.

“Alhamdulillah untuk sementara dua hari berjalan berhasil dikumpulkan Rp.3 juta lebih. Bantuan ini dari masyarakat untuk korban bencana Palu,” kata Irwandi didampingi Kayu Kul.

Hal sama diutarakan Irwan Yoga, penggiat lingkungan di daerah kopi tersebut. Dia berharap donasi yang dikumpulkan bisa membantu para korban bencana. “Animo masyarakat sangat luar biasa untuk membantu saudara kita di Palu. Semoga perasaan solidaritas dan semangat membantu seperti ini bisa terpupuk di sini,” ucap Irwan Yoga alias Kayu Kul, (3/10).

Wartawan lainnya Ilmansyah Putra, mengatakan, nantinya bantuan masyarakat di daerah Gayo Lut ini akan disalurkan ke Palu. Dirinya juga berharap masyarakat Aceh Tengah secara suka rela bersedia membantu meringankan beban korban musibah bencana alam ini.

Sementara, Ketua PWI Aceh Tengah, Jurnalisa menyebutkan, penggalangan dana untuk korban Palu-Donggala ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian insan pers terhadap sesama.

“Rencananya aksi amal ini akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Selain anggota PWI kami juga bekerja sama dengan elemen lainnya yang siap bergabung dan peduli terhadap musibah di Palu dan Donggala. Semoga hasil donasi ini bisa meringankan beban saudara kita di sana,” sebutnya.

Ditambahkannya, dompet peduli Palu-Donggala ini setelah nantinya terkumpul akan disalurkan bagi korban bencana di Sulawesi.

“Meski mungkin jumlah yang didapat tidak seberapa, tapi setidaknya ada semangat keperduliaan kita terhadap sesama. Saya juga berharap masyarakat Aceh Tengah, bahu membahu membantu para korban yang dilanda musibah,” ringkas Jurnalisa sambil mengatakan, Aceh Tengah pernah merasakan hal yang sama beberapa tahun lalu.(Red)




Danrem 011 Lilawangsa Beri Pengarahan Kepada Seluruh Prajurit dan PNS Kodim Ateng


Aceh Tengah, Baranewsaceh.co – Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Purmanto memberikan pengarahan kepada seluruh prajurit TNI dan PNS Kodim 0106/Aceh Tengah, di Aula Makodim 0106/Ateng, Senin (30/9), Takengon.

Pada acara kegiatan Jam Komandan tersebut dihadiri antara lain, Dandin 0106/Aceh Tengah Letkol Inf Hendry Widodo, para Pasi dan Danramil jajaran Kodim 0106/Aceh Tengah.

Dalam pengarahan Danrem mengatakan terima kasih kepada seluruh prajurit TNI dan PNS Kodim 0106/Aceh Tengah atas kerja keras, loyalitas, kerjasama dan dukungan yang telah dilakukan selama ini dalam mendukung tugas pokok Korem 011/Lilawangsa, termasuk pelaksanaanya di Tengah-tengah masyarakat sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) dalam membantu warga dengan penuh rasa tanggung jawab di daerah tugasnya masing-masing.

Selain itu, Danrem selalu menginggatkan kepada seluruh prajurit agar hindari pelanggaran, jaga kesehatan, terlebih khususnya hindari dan jauhkan narkoba dari diri sendiri, anak-anak dan keluarga. Karena narkoba dapat menyesatkan manusia yang akhirnya dapat menjerumuskan kita kedalam golongan orang-orang yang sesat selama kehidupan di dunia, kemudian sampaikan permasalahan yang ada melalui jalur garis Komando.

“Berikan pemahaman kepada anak-anak, dan berikan pendidikan untuk pembekalan mereka dimasa mendatang, tuntun mereka dan ajarkan kepada putra-putrinya agar memiliki rasa semangat untuk terus maju tanpa harus menunggu menjadi TNI maupun PNS, jadi pengusaha juga baik. Tanamkan kedisiplinan dan sikap jujur, serta peduli akan kebersihan lingkungan sekitar di tempat tinggal”, Harapnya.

Diakhir pengarahannya, Danrem memperlihatkan kata-kata bijak serta penjelasan kepribadiaanya bahwa Ia adalah dari anak seorang Petani dengan keluarga yang sederhana, kemudian hingga lulus di Akademi Militer (Catar Akmil), atas keyakinannya mau berusaha kuat dan berdoa yang tidak dilupakannya.

Hal ini merupakan sebagai gambaran dengan harapan Danrem 011/Lilawangsa untuk dapat dipahami para prajurit TNI dan PNS serta keluarga besar Kodim 0106/Aceh Tengah agar timbul rasa untuk terus maju. (LAUNG)




Petani Linge Adu Kemampuan di ajang Asah Terampil


Takengon, Baranewsaceh.co – Undang-Undang No 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (SP3K) Melalui pasal 26 mengamanatkan bahwa penyuluhan dilakukan dengan pendekatan partisifatif melalui metode penyuluhan pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi pelaku utama dan pelaku usaha.

Salah satu jenis metode berkaitan dengan pengembangan kreativitas dan inovasi adalah di laksanakan Lomba Asah Terampil bagi Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani tingkat Kecamatan Linge yang dilaksanakan pada hari ini, Kamis 27/9/2018 di Aula BPP Kecamatan Linge sebagai ajang informasi dan merefress kembali ilmu serta teknologi yang pernah di terima dari para penyuluh pertanian yang bertugas di WKPP Linge. Agenda yang maksudkan (LAT.red) untuk memacu dan memotivasi KWT dan Kelompok Tani dalam berusaha sesuai dengan petunjuk teknologi pertanian tersebut di buka Oleh Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah Abdurrahman, SP.

Abdurrahman Mengatakan, Lomba ini Merupakan ajang mengukur tingkat Kemampuan KWT dan Kelompok Tani dalam mengadopsi pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian, juga acara ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan penyuluh dalam pembinaan petani.

“Melalui Lomba Asah Terampil Petani dan Penyuluh Pertanian termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang untuk kemajuan pertanian, Kami Juga Mendo’akan agar yang menang dan mewakili Kecamatan Linge untuk berlomba Tingkat Kabupaten Aceh Tengah Pada 05 Oktober Mendatang di Kampung Kopi Tebes Lues berhasil hingga ke jenjang Nasional dan Bisa Berjumpa Langsung dengan Presiden Republik Indonesia di Istana Negara,” Ujarnya. Sementara itu Kepala BPP Linge, Saprin Zailani, SP menyatakan , Melalui Lomba Asah Terampil ini di harapkan akan melahirkan petani unggulan yang memiliki kreatifitas, inovasi dan mampu menguasai teknologi pertanian.

Dengan pengetahuan tersebut dampaknya akan meninggkat hasil produksi, dan kesejahteran petani.” Tegas Saprin.

Dijelaskannya, BPP Kecamatan Linge Memiliki Luas Sepertiga dari wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang jarak tempuh dari ibukota Kabupaten 40 Km, dengan memiliki aneka ragam komoditi yang menjadi primoda Seperti Kopi Gayo, Apel Gayo, Buah Naga Gayo, Kapulaga, Aren (enau), Singkong, Sreewangi, bahkan beberapa hasil komoditi tersebut telah di produksi oleh masyarakat yang tenar dengan sebutan “Tape” dan “Gula Aren” Isak. “Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :

1. Memperkuat kemandirian kelompok dengan meningkatkan pemahaman kegiatan di bidang pertanian.

2. Meningkatkan Rasa Percaya diri terhadap kemampuan potensi yang dimiliki masing-masing peserta.

3. Mengukur Tingkat Kemampuan KWT Kelompok Tani dalam mengadopsi pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian. 4. Sebagai Tolak Ukur keberhasilan Penyuluh Pertanian dalam melakukan pembinaan kepada KWT dan Kelompok Tani.” Ucap Saprin Zailani. (Riega)




Uji Kemampuan Petani, BPP Celala Gelar Lomba Asah Terampil

Takengon, Baranewsaceh.co – Kalau kita mendengar istilah Lomba Asah Terampil maka ingatan kita akan kembali pada era tahun 80”an dan 90”an dengan sebutan “Kelompencapir”. Pada masa itu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Bapak Presiden Soeharto berhasil berswasembada pangan.

Kelompencapir (Lomba Asah Terampil.Red) menjadi salah satu metode penyuluhan yang sangat dikenal oleh seluruh masyarakat umum dan kegiatan utama penyuluhan untuk meninggakatkan pengetahuan serta wawasan petani Indonesia. Sejumlah Kelompok Tani mengikuti Lomba Asah Terampil yang di selenggarakan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Celala Kabupaten Aceh Tengah pada hari Rabu 26/9/2018 di Aula BPP Kecamatan Celala mendapat Antusias baik dari warga maupun peserta lomba. Kepala BPP Celala, Sudarmi, SP, mengatakan Lomba Asah terampil ini adalah Suatu perlombaan untuk menguji Kemampuan petani sebagai pelaku utama dalam melaksanakan usaha tani mereka. “Baik disektor Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan serta pengetahuan dan keterampilan umum lainnya,” Ujarnya.

Kegiatan LAT yang di gelar saat ini lanjutnya,  dalam rangka memacu dan memotivasi para petani melaksanakan kegiatan usaha  sesuai dengan perkembangan teknologi pertanian, serta mengembangkan fungsi kelembagaan kelompok tani sebagai wadah produksi dan kerja sama. Sehingga dapat diandalkan dan berkelanjutan dalam era pertanian kedepannya. Sementara Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) dari Dinas Pertanian Aceh Tengah, Abdurrahman, SP, yang membuka secara Resmi kegiatan Lomba Asah Terampil Se-Kecamatan Celala mengungkapkan, bahwa kegiatan ini merupakan program Pemerintah Aceh khususnya Dinas Pertanian Aceh Tengah yang bertujuan untuk memotivasi dan memberdayakan para petani yang mandiri dan sejahtera.

“Kelompok Tani yang berdaya dapat dilihat dari aspek perencanan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan. Dengan demikian pemberdayaan mengandung unsur-unsur pengembangan potensi diri agar keswadayaan tumbuh dan berkembang, meningkatkan kemampuan dan tanggungjawab guna meningkatkat kerja secara optimal.”sebutnya. Kelompok Tani  yang diuji dengan materi seputar pertanian baik pengetahuan maupun keterampilan. Berbagai pertanyaan mengenai pertanian yang cukup bervariasi menambah wawasan para petani, serta  Penonton yang merupakan anggota kelompok tani juga memdapatkan ilmu tambahan di bidang pertanian. Kegiatan Lomba Asah Terampil (LAT.Red) di Aula BPP Celala juga di Hadiri Kepala BPP Kecamatan Bebesen, Athaullah,SP, Plt Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Drh.Hulfah,MP, Staff Dinas Pertanian, Haidayati, Penyuluh dan Para Petani se-kecamatan Celala.

*Riega. Petani Muda di Dataran Tinggi Gayo




Untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Petani, BPP Bebesen Gelar Lomba Asah Terampil

Takengon, Baranewsaceh.co  – Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Bebesen menggelar Lomba Asah Terampil (LAT) antar petani se-Kecamatan Bebesen, Senin 24 September 2018.

Acara lomba Asah Terampil   tingkat Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah Tahun 2018 dengan mengambil tema “ Melalui Lomba Asah Terampil Kita Tingkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Petani”.

Ini berlangsung di Aula kantor BPP Bebesen Kampung Empus Talu dan di buka secara resmi oleh : Herliasna, SP, KJF Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah. Kepala BPP Bebesen, Athaullah, SP, mengatakan bahwa ini adalah Lomba Asah Terampil yang ke-tiga di laksanakan di Kecamatan  Bebesen Semenjak beliau di tugaskan di BPP Tersebut. Dalam rangka meluapkan pengetahuan Sumber Daya Manusia para petani dalam hal pembangunan pertanian di Kecamatan Bebesen ini.

Menurut Attaullah, Kegiatan Lomba Asah Terampil Pertanian, Holtikultura, Peternakan dan Perkebunan yang di Jaman Pemerintahan Presiden RI Soeharto dulu terkenal dengan sebutan Kelompencapir ( Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pirsawan). “Lomba ini (Asah Terampil.red) memiliki fungsi  yang sangat efektif selain sebagai stimulan juga merupakan  wadah kompetisi antar petani beprestasi, untuk mencurahkan pengetahuan SDM petani, Silaturahmi, sharing informasi,  bertukar pengalaman serta untuk merangsang para petani sebagai pelaku utama untuk terus berkreatifitas, berinovasi, dan berefisiensi dalam berusaha tani, sehingga nantinya bisa membantu penyuluh dalam memberikan informasi tehnologi, penguatan kelembagaan tani dan info pemasaran kepada para petani di lingkungannya” ujar Atthaullah.

Sementara itu, KJF dari Dinas Pertanian Aceh Tengah, Herliasna, SP, berpesan kepada seluruh Peserta LAT di Kecamatan Bebesen agar Lomba Asah terampil ini bukan Hanya sekedar untuk menjadi Juara dan Memperoleh Hadiah, Tetapi, di harapkan  ilmu pengetahuan yang di sampaikan dapat di serap dan sebagai bekal untuk di aplikasikan di lapangan.

“ Saya Sangat Mengapresiasi dan mendukung LAT yang di laksanakan oleh seluruh Penyuluh BPP Bebesen ini, dimana kita bersaing secara baik, terutama bersaing dalam ilmu pengetahuan khususnya pembangunan pertanian, sehingga nantinya mampu meningkatkan hasil produksi pertanian dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat secara umum” katanya. Acara LAT yang di gelar di BPP Bebesen ini akhirnya di menangkan oleh Kelompok Tani “Weh Roda” dari Kampung Kebet di bawah binaan Penyuluh Pertanian Khadijah, MP.

  • Riega : Petani Muda di Dataran Tinggi Gayo




Himaga Gelar Temu Ramah Antar Sesama Mahasiswa Gayo – Alas


Bener Meriah, Baranewsaceh.co – Himpunan mahasiswa gayo dan alas (HIMAGA) menggelar acara temu ramah sekaligus tepung tawar bersama para mahasiswa baru yang berasal dari dataran tinggi tanah Gayo dan Alas. Temu ramah tersebut berlangsung di samping Pantai Rancung kota Lhokseumawe. Sabtu (22/09)

Kegiatan temu ramah yang berlangsung sehari dihadiri sekitar 300 peserta. Sementara pihak panitia juga tidak menyangka peserta yang hadir bisa melebihi target semula.

Sadra Munawar, ketua himpunan mahasiswa gayo dan alas saat di hubungi melalui selulernya kepada Baranewsaceh.co mengutarakan prasaannya, bahwa dia sangat bangga dengan telah meningkatnya jumlah mahasiswa  tahun ini yang berasal dari tanah Gayo dan Alas di kota Lhokseumawe, dan kami harapkan kepada kawan-kawan sebagai senior dari Himaga untuk terus dapat merangkul adek-adek yang lain dalam satu wadah. Jelasnya. Hal senada juga di sampaikan Agus Setriawan selaku ketua panitia.

Agus kuga menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh panitia yang telah berperan aktip untuk menyukseskan acara ini. Mudah mudahan kedepan pada acara pelantikan pengurus nantinya, akan sukses juga, tentu dengan panitia yang sama juga. Pungkasnya. (DN)




Kadistanbun Aceh : Cetak Sawah Baru, Solusi Antisipasi Penyusutan Luas Lahan Sawah

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq *)

“Dari hasil evaluasi kami, dalam beberapa tahun terakhir ini, setiap tahun terjadi penyusutan luas lahan sawah di Aceh sekitar 1.000 hektar akibat alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian, dan kalau proyek jalan tol Aceh terealisasi, kami memprediksi akan akan kembali terjadi penyulusat luas lahan sawah sekitar 5.000 hektar, tentu ini akan berdampak sangat signifikat terhadap produksi beras dari daerah kita” demikian yang diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan, SP, MM ketika ditemui di ruang kerjanya Jum’at (21/9/2018).

Lebih lanjut Hanan menjelaskan bahwa luas baku lahan sawah di provinsi Aceh saat ini seluas 307.410 Ha, sementara yang bisa ditanami seluas 293.067 Ha. Dengan populasi penduduk sebesar 5.208.433 jiwa saat ini, jumlah lahan sawah tersebut memang masih bisa mencukupi kebutuhan pangan penduduk Aceh, namun tanpa bisa ditolak, luas areal tersebut akan terus mengalami penyusutan dengan berbagai sebab. Jika hal ini tidak diantisipasi sejak dini, bukan tidak mungkin suatu saat provinsi yang selama ini surplus produksi beras ini harus mendatangkan beras dari luar daerah bahkan impor dari luar negeri.

Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh dalam upaya mengantisipasi penyusutan luas areal persawahan adalah melalui program percetakan sawah baru. Dari total alokasi program cetak sawah baru yang didanai APBN Kementerian Pertanian tahun anggaran 2018 seluas 12.000 ha, provinsi Aceh mendapatkan ‘jatah’ seluas 400 ha yang kemudian di alokasikan di Kbupaten Pidie seluas 200 Ha dan Kota Subulussalam seluas 200 Ha. Dari hasil evaluasi yang dilakukan pihak Distanbun Aceh, saat ini realisasi program cetak sawah baru yang pelaksanaannya di’back up’ uleh TNI tersebut saat ini mencapai 70 persen  yang sudah siap tanam, sisanya masih dalam tahap land clearing dan land leveling serta pembuatan pematang, saluran air dan jalan produksi. Dengan sisa waktu sekitar dua bulan lebih, beliau optimis program cetak sawah baru ini akan tercapai 100 persen di akhir tahun ini.

“Penambahan areal 400 Ha memang tidak terlalu signifikan, belum seimbang dengan laju penyusutan areal persawahan akibat alih fungsi lahan, namun setidaknya bisa membatu mengatasi penyusutan produksi beras di daerah kita, kedepan kita berharap bisa mendapat alokasi yang lebih besar, namun semua kembali kepada kesiapan kita” ungkap Hanan.

Dalam kesempatan tersebut, Hanan menyampaikan bahwa dari hasil evaluasi nasional program cak sawah baru, dari target 12.000 Ha, yang bisa dilaksanakan hanya 10.343 Ha, sisanya tidak bisa dilaksanakan dengan brbagai sebab, padahal pagu anggarannya sudah tersedia dalam APBN. Untuk itu Kadistanbun Aceh ini sangat mengharapkan seluruh pemerintah kabupaten dalam wilayah provinsi Aceh bisa menyiapkan progress dan data calon lokasi cetak sawah yang valid, sehingga sisa alokasi seluas 1.566 Ha bisa ‘direbut’.

“Kalau ada Bupati yang siap mendukung program ini dengan sisa efektif sekitar 2 bulan ini,kami akan langsung mengusulkan kepada bapak Plt Gubernur untuk bisa menarik anggaran cetak sawah baru dari Kementerian Pertanian ini  ke Aceh” ungkap Hanan.

Hanan juga menyadari, bahwa dengan sisa waktu efektif dua bulan tersebut memang cukup sulit untuk merebut dan mrealisasikan sisa alokasi cetak sawah nasional tersebut.  Untuk itu pihaknya berharap semua pemkab segera menyiapkan dokumen SID (Survey, Investigasi dan Desain) dan DED (Detil Engineering Design) program cetak sawah baru untuk tahun 2019 yang akan datang, beliau berharap aka nada penambahan alokasi cetak sawah di Aceh yang dapat dialokasikan secara merata di eluruh kabupaten yang ada daam wilayah provinsi Aceh. Menurut Hanan ada tiga hal yang menjadi syarat utama bagi daerah untuk bisa mendapatkan alokasi program cetak sawah baru yaitu ketersediaan lahan yang tidak brmasalah, ketercukupan air dan sumberdaya petani sebagai calon peserta program. Jika ketiga syarat itu terpenuhi, maka pihaknya siap untuk mengusulkannya ke pusat.

“Ketiga syarat utama tersebut tidak bisa ditawar-tawar, kalau daerah siap, maka kami juga siap untuk memperjuangkannya ke pusat, tai kalau datanya lemah dan tidak valid, akan sulit kami mempertahankan argument di tingkat Kementerian Pertanian, saya berharap semaua kabupaten dapat menyiapkan data yang akurat dan valid, sehingga ketika program yang kita usulkan disetujui, dapat terlaksana dengan baik, jangan sampai dananya sudah ada tapi tidak bisa kita lakksanakan dan harus kita kembalikan lagi ke pusat, ini akan jadi catatan buruk bagi kita” lanjutnya.

Sejak tahun 2017 lalu, program cetak sawah yang terdiri dari land clearing, land leveling, pembuatan tali air dan jalan produksi, ditangani oleh TNI bekerjasama dengan instansi pertanian setempat. Melalui kerjasama seperti ini, terbukti keberhasilan program ini bisa mencapai diatas 70 persen, sementara dengan pola lama lama yaitu swakelola oleh petani, tingkat keberhasilannya rata-rata dibawah 40 persen bahkan ada yang gagal sama sekali sehingga berdampak pada permasalahan hukum.

“Kita tidak ingin program cetak sawah baru menimbulkan masalah hukum yang akhirnya menjerat aparatur kita seperti yang terjadi di beberapa daerah dalam beberapa tahun terakhir, untuk itu kita sepakat program cetak sawah baru kita bekerja samadengan  teman-teman TNI, untuk pekerjaan fisik menjadi tugas TNI sementara yang terkait dengan teknis tetap menjadi tanggung jawab kita” lanjut Hanan.

Di akhir perbincangan, Hanan juga berharap adanya sharing anggaran dari APBK maupun APBA untuk mendukung program yang menjadi salah satu focus upaya khusus (upsus) percepatan swasembada pangan ini.

“Kita menyadari bahwa selama ini program cetak sawah hanya mengandalkan anggaran dari APBN yang jumlahnya sangat terbatas dan semua provinsi berebut untuk mendapatkannya, kami berharap ada sharing anggaran dari kabupaten maupun provinsi untuk mendukung program ini, karena program ini langsung menyentuh hajat hidup masyarakat” pungkasnya.

*) Staf Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, kontributor berita/artikel pertanian di media cetak dan online.




Edhie Baskoro Yudhoyono dan Rombongan Fraksi Demokrat DPR RI Tiba di Bandara Rembele

 


Bener Meriah, Baranewsaceh.co – Tepat pukul 09.00 rombongan Edhie Baskoro Yudhoyono berserta rombongan fraksi Demokrat DPR RI mendarat mulus di Bandara Rembele Bener Meriah.

Sejumlah fungsionaris, pengurus serta calon anggota DPRK, DPRA, dan DPR RI serta kader Partai Demokrat baik dari Provinsi Aceh maupun dari dua Kabupaten bertetangga Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, turur hadir menyambut kehadiran rombongan tersebut.

Tepat di gerbang utama kehadiran penumpang Bandara Rembele rombongan Edhie Baskoro Yudhoyono Cs disambut dan di kalungi bunga dan pemberian Sal Kerawang Gayo.

Amatan Baranewsaceh.co terlihat sejumlah pengurus Partai Demokrat Provinsi Aceh, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Serta ratusan caleg dari Partai Demokrat yang akan tampil mewakili dafil masing masing turut meramaikan suasana kunjungan ketua fraksi Demokrat DPR RI tersebut.

Terlihat Anggota DPRA  Provinsi Aceh Ir. Alaidin Abu Abas, Calon anggota DPR RI dafil 2 Aceh Kausar, Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Tengah Ismail, ketua DPC Partai Demokrat Bener Meriah Sapri Gumara, anggota DPRK Bener Meriah Muhammadin kader dan aimpatisan yang telah memenuhi halaman depan Bandara Rembele. Jumat 21 September 2018. (DN)




Wakil Ketua PKK Aceh, Dyah Erti Idawati Takengon Rafting Festival 2018

Aceh Tengah, Baranewsaceh. co – Wakil Ketua PKK Aceh, Dyah Erti Idawati Takengon Rafting Festival 2018, Sabtu 15 September 2018.




Tari Saman Ramaikan Pembukaan Gayo Alas Mountain International Festival 2018 | VIDEO

GAYO LUES, BARANEWSACEH.CO – Tari Saman dari  Kabupaten Gayo Lues turut memeriahkan pembukaan Gayo Alas Mountain International Festival 2018 di Lapangan Musara Alun, Kota Takengon, Jumat (14/8/2018) malam.

Kabag Humas Setdakan Gayo Lues Wahidin Porang, S. Pd mengatakan, sebanyak 65 orang penari Saman yang dimainkan putra-putra asal  Gayo Lues , memperlihatkan khasanah keberagaman budaya nusantara yang merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita ingin melalui GAMIFest 2018  ini, tradisi budaya yang beragam di empat Kabupaten Gayo Alas  bisa terus tumbuh dan menjadi perekat persatuan dan kesatuan anak-anak bangsa,” katanya.

Dari informasi yang diperoleh sebelumnya  dalam agenda GAMIFest 2018 nantinya akan ada pergelaran tari Saman masal melibatkan 15.000 penari dijadwalkan, 24 November 2018 bertepatan peringatan Hari Saman Internsional, s elain saman masal, di Gayo Lues juga akan diselenggarakan panggung “Saman Roa Ingi” atau “Saman Dua Hari Dua Malam” yang melibatlan 144 desa di kabupaten Gayo Lues  (ABDIANSYAH)




Bupati Gayo Lues Hadiri Pembukaan Gayo Alas Mountain International (GAMI) 2018


GAYO LUES, BARANEWSACEH.CO – Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru didampingi Wakil Bupati Gayo Lues H. Said Sani menghadiri  pembukaan Gayo Alas Mountain International (GAMI) 2018 di 4 Kabupaten, yang meliputi Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tenggara, di  Lapangan Musara Alun, Kota Takengon, Jumat (14/8/2018) malam.

Gayo Alas Mountain International (GAMI) 2018 di 4 kabupaten diselenggarakan oleh Disbudpar Aceh, yang  berlangsungdari tanggal  14 September 2018 hingga 24 November 2018.

Pantauan Awak media Ribuan masyarakat memadati lapangan Musara Alun  Takengon,  meski diguyur hujan dalam pembukaan tersebut, namun tetap antusias menyaksikan pembukaan GAMIFest 2018.

Teuku Edwin dan Zeda Salim  menjadi master of ceremony pada  pembukaan acara tersebut  yang dibuka langsung oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah serta dihadiri langsung oleh Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional II Kementerian Pariwisata RI Reza Fahlevi beserta sejumlah rombongan dari Jakarta.

Berdasarkan informasi yang dihimpun  pada pembukaan , sejumlah penampilan yang akan memanjakan ribuan penonton yang hadir juga disajikan dengan penuh pesona.

“Tarian massal Opoh Kio bersama 350 penari akan menjadi penampilan, tidak hanya itu juga dihibur dengan penampilan musisi berdarah Gayo, yakni Ervan Ceh Kul serta penyair nasional Fikar W Eda juga bakal hipnotis lapangan Musara Alun,”

Kegiatan GAMI Festival yang bertema “The Power of Nature” merupakan salah satu rangkaian top event dari Calendar of Event (COE) Aceh yang akan berlangsung hingga 3 (tiga) bulan dengan melibatkan 4 (empat) kabupaten seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.

Rentetan rangkaian atraksi wisata alam dan budaya digelar selama GAMI Festival 2018 kali ini, meliputi kegiatan launching, Destination Photo Contest, Opening Ceremony, Tarian Massal, Pawai Budaya Gayo Alas, Pentas Wonderful Gayo Alas, Handicraft and Photo Expo, Coffee and Culinary Festival, Lomba Perahu Tradisional, Jet Ski Exhibition, Paramotor Show, Camping 100 Tenda, Festival Panen Kopi, Expedisi Burni Telong, Takengon Rafting, Aceh Bike Cross Country, Gathering Pesona Indonesia, Pacu Kuda Tradisional, Aceh Trail Adventure, Festival Agara, Wisata Arung Jeuram, Pelatihan Pariwisata, Festival Budaya Saman dan atraksi menarik lainnya.

Pada event tersebut, beragam atraksi akan digelar seperti Destination Photo Contest, Opening Ceremony, Tarian Massal, Pawai Budaya Gayo Alas, Pentas Wonderful Gayo Alas, Handicraft and Photo Expo, Coffee and Culinary Festival, Lomba Perahu Tradisional, Jet Ski Exhibition.

Tak hanya itu, event tingkat internasional ini juga menampilkan Paramotor Show, Camping 100 Tenda, Festival Panen Kopi, Expedisi Burni Telong, Takengon Rafting, Aceh Bike Cross Country, Gathering Pesona Indonesia, Pacu Kuda Tradisional, Aceh Trail Adventure, Festival Agara, Wisata Arung Jeuram, Pelatihan Pariwisata dan atraksi wisata menarik lainnya. (ABDIANSYAH)




Belajar Tentang Kopi, Puluhan Mahasiswa Manca Negara Kunjungi KP Gayo

 


Liputan : Fathan Muhammad Taufiq dan Ishar, SP

Popularitas kopi arabika dari Dataran Tinggi sebagai kopi terbaik dan termahal di dunia, ternyata tidak hanya didalam negeri saja, tapi juga sudah dikenal bi berbagai negara di benua Amerika dan Eropa, tidak terkecuali negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Bukan hanya kalangan pelaku usaha atau pebisnis kopi saja yang mengenal keunggulan kopi Gayo, tapi juga menjadi daya tarik bagi kalangan mahasiswa dan akademisi di banyak negara. Banyak kalangan mahasiswa dari negara-negara tetangga yang kemudian tertarik untuk melihat langsung sekaligus belajar tentang seluk beluk kopi Gayo, mulai dari proses pembibitan, budidaya, pasca panen, prosessing sampai pemasaran komoditi perkebunan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Gayo ini.

Seperti yang terlihat Rabu (12/9/2018) kemarin, puluhan mahasiswa dari beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Vietnam, Kamboja, Laos dan Thailand serta dari kawasan Eropa yaitu Swedia dan dari wilayah Amerika Latin yaitu Chili terlihat mengunjungi Kebun Percobaan Kopi Gayo (KP Gayo) yang merupakan unit pelaksana teknis Badan Peneltian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. Sebanyak 26 mahasiswa dari berbagai negara tersebut ditambah 10 mahasiswa dari Fakultas Pertanian UII dan 10 mahasiswa Fakultas Pertanian UMSU ini merupakan peserta Joint Summer Program Biodiversity Indonesian Coffee Story. Program ini merupakan kerjasama Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan dengan beberapa perguruan tinggi di berbagai negara. Program Joint Summer sendiri berisi kegiatan kuliah umum, Praktik Lapangan dan Field trip mahasiswa luar negeri ke destinasi yang menjadi fokus program tersebut. Itulah sebabnya pengelola program kemudian mengajak para mahasiswa tersebut untuk mengunjungi dataran tinggi Gayo untuk melihat langsung dan belajar tentang berbagai aspek tentang kopi arabika Gayo.

Saat mengunjungi Kebun Percobaan (KP) Gayo yang berada di desa Pondok Gajah, kecamatan Bandar, kabupaten Bener Meriah ini, ke 46 mahasiswa manca negara dan dalam negeri ini didampingi oleh beberapa dosen pembimbing, langsung diajak untuk melihat langsung proses pembibitan, budidaya, panen dan pasca panen serta proses pengolahan di tempat tersebut. Kepala KP Gayo, Ir. Khalid didampingi peneliti Ir. Bardi Ali dan Ishar, SP menyambut baik kedatangan para mahasiswa yang ingin belajar banyak tentang seluk beluk kopi Gayo ini. Menurut Khalid, kebun percobaan kopi Gayo ini memang sudah sering dijadikan destinasi kunjungan, studi banding maupun field trip oleh berbagai kalangan baik dari luar daerah maupun luar negeri. KP Gayo juga memiliki fasilitas yang cukup memadai dan kebun percobaan yang lumayan luas, sehingga sangat representatif sebagai tempat pembelajarn tentang kopi dari hulu sampai ke hilir.

Dalam kesempatan tersebut Dekan Fakultas Pertanian UMSU Ir. Asritanarni Munar, MP, yang bertindak selaku ketua rombongan menyampaikan kunjungan kami bertujuan untuk menimba pengetahuan praktis budidaya kopi yang sesuai dengan Good Agricultural Practice (GAP) Kopi Arabica mulai dari perbenihan, pengelolaan kebun, prosesing hasil dan marketingnya. Disamping itu juga menggali pengalaman petani kopi yang selama ini dilakukan baik dari segi budidaya, prosesing dan membuat minuman siap saji. Petani Kopi Gayo yang terkenal memiliki cultura yang ramah dan bersahabat serta memperkenalkan kopi Indonesia khususnya Kopi Arabika Gayo ke manca negara.

“Kami sangat beruntung bisa mengunjungi kebun percobaan kopi Gayo ini, karena disini kami bisa belajar secara lengkap tentang berbagai aspek kopi arabika, mulai dari hulu sampai ke hilir, karena fasilitas dan lahan percontohannya sangat lengkap” ungkap Asrita.

Lebih lanjut Asrita mengungkapkan bahwa para peserta program joint summer ini sangat antusias ketika bisa belajar tentang seluk beluk kopi arabika langsung dari sumbernya, menurutnya banyak sekali manfaat yang diperoleh dari kunjungan field trip ke KP Gayo ini.

Asrita juga menambahkan bahwa pihak UMSU dan UII selaku member dari kerjasama program join summer ini sangat mendukung upaya  usaha tani bebbasis industial yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui program ini, kedua perguruan tinggi ternama di Indonesia ini juga terus berupaya membantu perkembangan inovasi, mengambil aksi untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya, mengkonservasi dan memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan, melindungi dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati, merevalitasi kemitraan global untuk pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Kegiatan akademik kunjungan lapangan juga bertujuan meningkatkan kualitas civitas akademika pertanian dan interaksi dengan petani, pebisnis, eksportir dan pemilik coffee shop serta mendukung keanekaragaman hayati kopi yang ada.

Jadi selain belajar tentang aspek budidaya, kunjungan field trip ini juga untuk mencari bahan kajian yang nantinya akan direkomendasikan kepada stake holder terkait untuk pengembangan kopi arabika, bukan saja untuk Gayo tapi juga untuk daerah lpenghasil kopi arabika lainnya serta bagi negara-negara asal para mahasiswa.

Mewakili para mahasiswa, Jeff Yap Jia Fu mahasiswa asal University Utara Malaysia, merasa sangat tersanjung  dengan sambutan para peneliti dan petani kopi Gayo yang dengan ramah dan sangat bersahabat menyambut kedatangan mereka. Selain mengunjungi KP Gayo, rombongan mahasiswa dari berbagai negara ini juga diajak berkeliling melihat aktifitas para petani kopi di kebun mereka. Dari kunjungan ke kebun-kebun kopi ini, mereka jadi tau bahwa lebih dari 90% petani yang memiliki kebun kopi juga sudah memiliki prosesing sederhana dan dapat melakukan proses pasca panen sendiri. Sehingga produk yang mereka hasilkan dapat langsung dijual langsung ke koperasi atau eksportir dalam bentuk green bean yang sudah siap di ekspor setelah melalaui proses sortasi dan gradasi. Saat mereka diajak mencicipi kenikmatan kopi Gayo, para mahasiswa ini akhirnya tau bahwa Kopi Gayo mempunyai citarasa yang sangat baik disebabkan antara lain faktor elevasi yang cocok, kondisi lingkungan mikro yang spesifik, memiliki budidaya secara organik dan ramah lingkungan, tidak mengherakna jika akhirnya  kopi arabika Gayo mampu ‘mendunia’.

“Mengunjungi tempat ini, kami jadi tau mengapa sekarang kopi arabika Gayo menjadi kopi termahal di dunia, ternayata banyak faktor alam yang membuat keunggulan kopi Gayo ini, selain proses budidayanya yang benar-benar organik, ini perlu dipertahankan kesinambungannya dengan regenerasi dan transfer teknologi ke petani muda (melenial) Kopi Gayo, sehingga apa yang saya rasakan hari ini dapat pula dinikmati oleh teman-teman dimasa yang akan datang, saya juga berharap ilmu dan plaman engyang saya dapatkan disini dapat saya bisa diterapkan di negara saya” ungkap Jeff.

Selama para mahasiswa ini berada di KP Gayo, beberapa peneliti dan tenaga teknis lapangan di kebun percobaan ini telah memberikan penjelaskan secara ringkas namun detil tentang budidaya kopi secara berkelanjutan mulai dari pembibitan (Nursery) sampai pasca panen serta mengenalkan varietas Gayo 1 dan Gayo 2 yang sudah di lepas oleh Kementerian Pertanian sebagai varietas unggul kopi arabika,

Sebelum meninggalkan tanoh Gayo untuk kembali ke negara mereka masing-masing, rombongan mahasiswa ini, juga mengunjungi beberapa obyek wisata andalan di dataran Tinggi Gayo seperti Bur Telege, One-One dan seputaran Danau Laut Tawar. Selain itu mereka juga berkesempatan mengunjungi beberapa koperasi pengekspor kopi baik yang ada di kabupaten Aceh Tengah maupun Bener Meriah serta beberapa kafe yang menyajikan kopi nikmat racikan para barista.

Rasa puas jelas terlihat dari raut wajah mereka usai mengunjungi berbagai tempat di Gayo, tidak lupa mereka menyampikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dan kerjasama yang baik ini.




Nikmati Indahnya Pesona Danau Laut Tawar Lewat Special Camping 100 Tenda

 

Aceh Tengah, Baranewsaceh.co – Dataran tinggi Gayo memiliki banyak ragam pesona mulai dari keindahan alam, budaya, sejarah hingga sajian kuliner khas yang tiada tandingannya. Salah satunya Pesona Danau Lut Tawar, suasana alam berhawa dingin yang dibalut keunikan adat istiadat sampai kesenian yang mendunia hingga sejarah panjang suku Gayo yang kesemuanya bisa kita rasakan sembari meleburkan diri dalam kenikmatan kopi Arabikanya.

Untuk merasakan seluruh pesona dari dataran tinggi Gayo ini, wisatawan tidak perlu khawatir, khususnya para pecinta alam bisa menikmati dalam kegiatan Camping 100 Tenda yang akan digelar 22-23 September 2018 mendatang di Ujung Nunang Danau Lut Tawar, Aceh Tengah.

Kegiatan yang merupakan bagian dari Gayo Alas mountin internasional festival (GAMIfest ) ini sebagai daya tarik atraksi wisata petualangan unggulan yang dikemas secara unik dan disuguhkan khusus kepada para komunitas yang ingin bersahabat dan hidup bebas bersama alam.

” Atraksi wisata ini hadir untuk menyapa komunitas dan peminat wisata khusus yang ingin menikmati pesona alam Gayo dengan berbagai aktivitas menarik yang telah dipersiapkan oleh panitia. Sekaligus even ini menjadi media efektif dalam rangka mempromosikan dataran tinggi Gayo sebagai salah satu Destinasi Wisata Agro dan Adventure dengan view danau laut tawar.

Kegiatan Camping 100 Tenda ini sudah digelar untuk ke lima kalinya setelah sukses diselenggarakan pada tahun 2016 dan 2017 dengan jumlah peserta yang terus meningkat, baik dari Aceh sendiri maupun dari luar Aceh.

Camping 100 Tenda diharapkan dapat berjalan sukses dengan bertambahnya antusiasme peserta yang dapat memberikan dampak positif bagi daerah, baik secara ekonomi, sosial budaya dan lingkungan.

” Kegiatan Camping 100 Tenda tidak hanya menjadi wahana efektif dalam rangka menperkenalkan dan mempromosikan pesona alam dan budaya masyarakat Gayo kepada peserta, tapi juga membangun motivasi dan tanggung jawab moral anak-anak muda di Aceh untuk lebih mencintai dan menjaga tanah Gayo dari berbagai kerusakan dan kehancuran akibat tangan-tangan jahil.

kegiatan yang didukung sepenuhnya Disbudpar Aceh tersebut menjadi ajang memperkenalkan Aceh sebagai salah satu destinasi wisata halal terbaik dunia.

” Ada sejumlah agenda menarik yang kami siapkan untuk disuguhkan kepada peserta Camping 100 Tenda meliputi touring Danau Lut Tawar, Ngopi Bareng, Penanaman Pohon, Live Music, Shalat Bersama, Atraksi Seni Budaya, permainan dan banyak kegiatan seru lainnya.

” Bagi yang sudah mendaftar, peserta akan memperoleh konsumsi, souvenir, bibit pohon, lampion dan lain-lain. Bagi yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat melalui akun Instagram camping @100tenda atau CP No. 082360601126,” (DN).




Forgab “Gayo Bersatu” Lakukan Aksi Pungut Sampah di Pante Menye Bintang


Aceh Tengah, Baranewsaceh.co – Puluhan anggota Forum silaturahmi gayo bersatu (Forgab) secara suka rela melakukan aksi spontanitas pungut sampah di lokasi objek wisata Pante Menye Danau Laut Tawar, Kecamatan Bintang Kabupaten Aceh Tengah. Senin (10/09)

Kegiatan aksi pungut sampah yang dilakukan oleh anggota Forgab Gayo Bersatu merupakan bentuk tanggung jawab moral dan kepeduli akan kebersihan Danau Laut Tawar.

“Kalau bukan kita yang menjaga dan merawat danau ini lalu siapa lagi” ketus Irhamdi salah seorang anggota senior Forgab. Irhamdi juga berharap kepada para pengunjung agar memperhatikan sampah saat seusai mengunjungi danau ini.

Selain itu Forgab juga turut mengajarkan bagai mana cara menanamkan rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar kepada generasi negeri ini.

Danau laut tawar ini adalah aset dan objek wisata utama yang menjadi Ikon nya Kabupaten Aceh Tengah. Oleh sebab itu mari kita jaga dan pelihara kebersihannya. Jangan buang sampah sembarangan pinta Andi Nosar ketua Forgab.

Andi Nosar ketua Forgab kepada Baranewsaceh.co juga menjelaskan terkait aksi pungut sampah yang di lakukan di lokasi objek wisata Pante Menye. Semua ini adalah bentuk spontanitas tanpa ada di rencanakan ini adalah murni tanpa ada unsur kepentingan yang lainnya.”Tanpa di suruhpun kami akan tetap berbuat, karena naluri dan insting kami akan selalu peka bila di sekeliling kami masih banyak sampah yang bertebaran.

Intinya “Forgab” akan selalu pro aktif sebagai mitra pemerintah dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam dan lingkungan.

Disisi lain Andi Nosar juga menghimbau kepada seluruh anggota Forgab Gayo Bersatu yang ada di 4 (empat) Kabupaten serumpun, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues dan di Bener Meriah. Agar meluangkan sedikit waktu untuk kebersamaan dalam melakukan kegiatan sosial secara bersama di Kabupaten masing masing.

Semoga kedepan dengan adanya kegiatan yang telah di mulai ini hendaknya dapat  menumbuh kembangkan minat dan rasa kepedulian dari masyarakat seitar untuk merawat dan menjaga kebersihan lingkungan.

Hamdani Toa seorang seniman dan pemerhati lingkungan juga menyoroti peran Pemkab Aceh Tengah. Sudah selayaknya pemerintah mulai dari desa dan para pengelola objek wisata di Danau Laut Tawar untuk menganggarkan dana melalui dana desa untuk pengadaan tong tong sampah dan juga pekerja kebersihan.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sudah saatnya memberikan perhatian lebih serius terkait kebersihan ke indahan dan kelestarian Danau Laut Tawar. Karena baik buruknya citra Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah di mata pengunjung akan terlihat dari bersihnya objek objek wisata yang ada di seputaranDanau Laut Tawar. Ucapnya.(Jasli)




Jembatan Kala Ili Kecamatan Linge Mulai Menemukan Titik Terang

 

Aceh Tengah, Baranewsaceh.co – Bupati Aceh Tengah Shabela Abu Bakar, menerima dan mendengar langsung laporan mukim Jamat terkait kondisi jembatan kala ili, kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah. Senin (10/09).

Dalam audensi antara Bupati Aceh Tengah, Shabela Abu Bakar dengan mukim Jamat berhasil di sepakati bahwa dalam waktu dekan akan di lakukan perbaikan jembatan. Kendati untuk sementara masih mempertahankan struktur jembatan yang masih terbuat dari kayu, sembari menunggu program lanjutan ke tahap rangka baja.

Selain itu Bupati Aceh Tengah Shabela Abu Bakar juga menyebutkan melalui laman intagramnya. https://www.instagram.com/p/Bnh5uqjhSpp/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1ssa0zw9auhvp&r=wa1. Selain akan memperbaiki kondisi jembatan Kala Ili, nantinya  juga akan di bangun Langgar (Joyah) serta tempat sholat, dan MCK.(DN)




KENTANG HASIL PRODUKSI KOMUNITAS ENTI GABOXS AMAN DI KONSUMSI


Keamanan pangan menjadi hal yang sangat penting di dalam ketahanan pangan, karena berpengaruh langsung ataupun tidak langsung terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Mengingat pentingnya keamanan pangan tersebut maka FAO/WHO pada acara International Conference On Nutrition  (Deklarasi Roma)   pada Tahun 1992   telah mendeklarasikan bahwa bahwa memperoleh makanan yang cukup, bergizi, dan aman adalah hak setiap manusia. Pada tahun 1996 WHO dan FAO kembali menyepakati hasil dari World Food Summit di Roma bahwa keamanan pangan (food safety) merupakan salah satu komponen dari ketahanan pangan (Food Security).

Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang No.8 Tahun 2012 Tentang Pangan, yang merupakan revisi dari Undang-Undang Pangan sebelumnya No.7 Tahun 1996, Negara selain berkewajiban untuk mewujudkan ketersediaan pangan juga mewujudkan pemenuhan konsumsi pangan yang aman, bermutu dan bergizi. Sebagai bagian dari kebutuhan manusia sekaligus bagian dari hak asasi manusia yang di jamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dinas Pangan Kabupaten Aceh Tengah yang memiliki tugas dan fungsi sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap jaminan mutu dan keamanan pangan segar yang beredar ditingkat masyarakat. Dinas Pangan Kabupaten Aceh Tengah Melalui Bidang Keamanan Pangan Melakukan identifikasi pangan segar yang dilakukan ditingkat produsen pangan segar tumbuhan (Petani) dan distributor (Pasar).

Identifikasi pangan segar merupakan langkah awal dalam melakukan pengawasan jaminan mutu terhadap pangan segar yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Salah satu  produsen (Petani/Kelompok Tani)   yang menjadi sasaran identikasi  adalah Komunitas “Enti Gaboxs” yang merupakan produsen pangan segar asal tumbuhan khususnya kentang.

Hari Selasa 4 September 2018 Dinas Pangan Kabupaten Aceh Tengah yang dikoordinir oleh drh. Emi Linggawani, Kepala Bidang Keamanan Pangan berkunjung ke Lahan Usaha Tani “ Enti Gaboxs” yang berada  dalam Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian BPP Bebesen dalam rangka melakukan kegiatan Rapid Test  sebagai deteksi awal kandungan Pestisida pada pangan segar asal  tumbuhan (Kentang) salah satu komoditi yang selama ini  selalu di budidayakan oleh Komunitas Enti Gaboxs. Berdasarkan sample yang di uji oleh Fadli, SP dan Mulyana, STp  Petugas Pengambil Contoh (PPC) Hasilnya Aman untuk di konsumsi karena negatif residu pestisida.

Kepala Bidang  Pangan Kabupaten Aceh Tengah, drh. Emi Linggawani mengatakan “ Kegiatan ini bertujuan untuk pengawasan keamanan pangan segar, apakah ada mengandung residu pestisida pada komoditi sayuran segar serta memberikan perlindungan kepada Masyarakat dalam mengkonsumsi sayuran”, jelasnya.

Lebih lanjut, beliau juga mengatakan bahwa : “ Kami di Dinas Pangan sudah membuat selebaran tentang keamanan pangan ini termasuk tuntunan memilih bahan pangan segar. Kemudian kita juga melakukan sosialisasi pangan kesekolah-sekolah sebagai edukasi kepada masyarakat,” paparnya.

Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis,kimia dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama baik Pemerintah, Petani dan Pelaku Usaha agar  makanan yang Halalan dan Toyyiban   secara berkesinambungan selalu di produksi dan di pasarkan seperti yang telah lakukan oleh Komunitas Enti Gaboxs dalam melakukan kegiatan budidaya tanaman holtikura di Pantan Terong.

  • Petani Muda Berdomisili di Dataran Tinggi Gayo




BPP Lut Tawar Berbagi Ilmu Terkait Bawang Merah

Takengon Baranewsaceh.co –  Waktu menunjukan jam 09.Wib. Sembilan kendaraan roda dua yang rata rata plat merah di bawah komando Atthaullah,SP Kepala BPP Kecamatan Bebesen start melakukan perjalanan dari kantor BPP Bebesen yang beralamat di Kampung Empus Talu menuju BPP Lut Tawar yang berada di Kampung Toweren Uken Kecamatan Lut Tawar Aceh Tengah Provinsi Aceh.

Perjalanan Para Penyuluh dari BPP Bebesen dengan jarak tempuh 8 Km untuk menuju ke BPP Lut Tawar akan di suguhkan dengan pemandangan yang sangat exotis dari alam yang berada di sekitarnya, salah satunya adalah Danau Lut Tawar yang menjadi Ikon Pariwisata dari Kabupaten Aceh Tengah yang terkenal dengan Hawanya yang sejuk.

Kedatangan para Penyuluh dari BPP Bebesen Beserta Siswa SMK2 Takengon yang sedang melaksanakan Kegiatan Prakerin di sambut hangat oleh Para Penyuluh dari BPP Lut Tawar, Ditambah dengan Hidangan Kopi sebagai Wellcome Drink. Di ruangan seluas 4×6 persegi meter ini mereka saling bertukar informasi dan pengalaman serta penjelasan ringkas tentang komoditi bawang merah yang sedang dikembangkan di wilayah kerja BPP Lut Tawar Tepatnya di Desa Toweren Uken dengan luas sekitar I Ha Sebagai demplot atau demontrasion plot sebagai salah satu metode penyuluhan pertanian kepada petani khususnya dan kepada masyarakat luas pada umumnya.

Tujuan dari kunjungan lapangan ini yaitu untuk mempererat tali silaturrahmi antar BPP supaya memiliki pengetahuan secara komprehensif tentang komoditi pertanian Spesifik Lokalita Kabupaten Aceh Tengah khususnya Bawang Merah yang menjadi Program Upaya Khusus (UPSUS) yang di luncurkan Pemerintah Melalui Kementerian Pertanian. Serta pendampingan dan Bimbingan Kepada Para Siswa Prakerin dari Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura SMK 2 Takengon.

Kaslil, salah seorang Penyuluh Pertanian yang bertugas di BPP Lut Tawar ini segera mengajak para tamunya untuk langsung melihat kondisi real lahan Demplot komoditi Bawang Merah yang mereka programkan, hanya berjarak sekitar 600 meter dari kantor BPP tersebut, di areal demplot yang sedang dilakukan pengolahan tanah oleh petani binaannya inilah Kaslil Beserta Kasim Mahmud, Berbagi Ilmu dan Pengalaman kepada seluruh Para Penyuluh khususnya para siswa Prakerin, tentang Tehnik dan Budidaya serta analisa bisnis Bawang Merah.

Walaupun Cuaca panas, dan berada di tengah hamparan sawah yang sedang di oleh tanahnya dengan 3 buah Alat Mesin Pertanian, para Penyuluh dan siswa prakerin dari BPP Bebesen sangat Antusias mendengarkan semua informasi dari mereka berdua, baik dengan menulis, merekam serta memvideokan kegiatan tersebut sebagai bekal untuk di bawa pulang dan untuk di sebarluaskan nantinya kepada para petani binaan di wilayah kerja mereka masing- masing. Bukan hanya itu mereka juga di beri kesempatan untuk menjadi Operator dadakan alsintan yang sedang bekerja di areal demplot tersebut.

Dalam rangka sharing informasi para penyuluh dari BPP Lut Tawar ini sepenuh hati atau all out membagikan ilmu dan Pengalaman mereka baik ketika menjadi penyuluh ataupun ketika mereka menjadi pelaku utama dalam budidaya bawang merah. ini ditunjukan dengan mengajak seluruh tamunnya dari BPP Bebesen ke sebuah Rumah Berkontruksi kayu yang mereka jadikan sebagai gudang penyimpanan benih bawang merah.

Disini kembali mereka di bimbing dan di bekali tentang pengetahuan bibit bawang merah yang bagus dan asal-usul benih tersebut.
Apa yang telah di lakukan oleh Para Penyuluh Dari BPP Bebesen Dan Penyuluh BPP Lut Tawar adalah contoh “Koalisi” Positif sesama Penyuluh Untuk selalu menjalin silataruhmi di dunia nyata dan sharing informasi kepada Generasi Muda khususnya Siswa SMK 2 Takengon yang sedang Magang. Bagaimana indahnya kekompakan di antara mereka yang selalu peduli dengan dunia pertanian serta menjadi “Guru” bagi Generasi muda untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mereka yang mengsinkronkan teori dan di aplikasikan langsung dilapangan.(Riega)




Ketika BPP Lut Tawar “Diserbu” Oleh BPP Bebesen Karena Bawang Merah


BARANEWSACEH.CO,ACEH TENGAH – Waktu menunjukan jam 09.Wib. Sembilan kendaraan roda dua yang rata rata plat merah di bawah komando Atthaullah,SP Kepala BPP Kecamatan Bebesen start melakukan perjalanan dari kantor BPP Bebesen yang beralamat di Kampung Empus Talu menuju BPP Lut Tawar yang berada di Kampung Toweren Uken Kecamatan Lut Tawar Aceh Tengah Provinsi Aceh.

Perjalanan  Para Penyuluh dari BPP Bebesen dengan jarak tempuh 8 Km untuk menuju ke BPP Lut Tawar akan di suguhkan dengan pemandangan yang sangat exotis dari alam yang berada di sekitarnya, salah satunya adalah Danau Lut Tawar yang menjadi Ikon Pariwisata dari Kabupaten Aceh Tengah yang terkenal dengan Hawanya yang sejuk.

Kedatangan para Penyuluh dari BPP Bebesen Beserta Siswa SMK2 Takengon yang sedang melaksanakan Kegiatan Prakerin di sambut hangat oleh Para Penyuluh dari BPP Lut Tawar, Ditambah dengan Hidangan Kopi sebagai Wellcome Drink. Di ruangan seluas 4×6 persegi meter ini mereka saling bertukar informasi dan pengalaman serta penjelasan ringkas tentang komoditi bawang merah yang sedang dikembangkan di wilayah kerja BPP Lut Tawar Tepatnya di Desa Toweren Uken dengan luas sekitar I Ha Sebagai demplot atau demontrasion plot sebagai salah satu metode penyuluhan pertanian kepada petani khususnya dan kepada masyarakat luas pada umumnya.

Tujuan dari  kunjungan lapangan ini yaitu untuk mempererat tali silaturrahmi antar BPP supaya memiliki pengetahuan secara komprehensif tentang komoditi pertanian Spesifik Lokalita Kabupaten Aceh Tengah khususnya Bawang Merah yang menjadi Program Upaya Khusus (UPSUS) yang di luncurkan Pemerintah Melalui Kementerian Pertanian. Serta pendampingan dan Bimbingan Kepada Para Siswa Prakerin dari Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura SMK 2 Takengon.

Kaslil, salah seorang Penyuluh Pertanian yang bertugas di BPP Lut Tawar ini segera mengajak para tamunya untuk langsung melihat kondisi real lahan Demplot komoditi Bawang Merah yang mereka programkan, hanya berjarak sekitar 600 meter dari kantor BPP tersebut, di areal demplot yang sedang dilakukan pengolahan tanah oleh petani binaannya inilah Kaslil Beserta Kasim Mahmud, Berbagi Ilmu dan Pengalaman kepada seluruh Para Penyuluh khususnya para siswa Prakerin, tentang Tehnik dan Budidaya serta analisa bisnis Bawang Merah.

Walaupun Cuaca panas, dan berada di tengah hamparan sawah yang sedang di oleh tanahnya dengan 3 buah Alat Mesin Pertanian, para Penyuluh dan siswa prakerin dari BPP Bebesen sangat Antusias mendengarkan semua informasi dari mereka berdua, baik dengan menulis, merekam serta memvideokan kegiatan tersebut sebagai bekal untuk di bawa pulang dan untuk di sebarluaskan nantinya kepada para petani binaan di wilayah kerja mereka masing- masing. Bukan hanya itu mereka juga di beri kesempatan untuk menjadi Operator dadakan alsintan yang sedang bekerja di areal demplot tersebut.

Dalam rangka sharing informasi para penyuluh dari BPP Lut Tawar  ini sepenuh hati atau all out membagikan ilmu dan Pengalaman mereka baik ketika menjadi penyuluh ataupun ketika mereka menjadi pelaku utama dalam budidaya bawang merah. ini ditunjukan dengan mengajak seluruh tamunnya dari BPP Bebesen ke sebuah Rumah Berkontruksi kayu yang mereka jadikan sebagai gudang penyimpanan benih bawang merah. Disini kembali mereka di bimbing dan di bekali tentang pengetahuan bibit bawang merah yang bagus dan asal-usul benih tersebut.

Apa yang telah di lakukan oleh Para Penyuluh Dari BPP Bebesen Dan Penyuluh BPP Lut Tawar adalah contoh “Koalisi” Positif sesama Penyuluh Untuk selalu menjalin silataruhmi di dunia nyata dan sharing informasi kepada Generasi Muda khususnya Siswa SMK 2 Takengon yang sedang Magang. Bagaimana indahnya kekompakan di antara mereka yang selalu peduli dengan dunia pertanian serta menjadi “Guru” bagi Generasi muda untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mereka yang mengsinkronkan teori dan di aplikasikan langsung dilapangan. (RED)

  • PENULIS ; Riega Petani Muda berdomisili Di Dataran Tinggi Gayo



BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) BEBESEN MEMBERIKAN PENYULUHAN KEPADA GENERASI MUDAA


Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah secara signifikan sehingga banyak merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern.. Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendiddikan Sistem Ganda (PSG) merupakan suatu kombinasi antara penyelenggaraan di sekolah (SMK) dengan Penyelenggaraan praktek Kerja Industri (Prakerin) institusi kerja pasangan secara singkron dan sistematis melalui bekerja langsung pada pekerjaan yang sesungguhnya dengan tujuan mengantarkan peserta didik pada penguasaan kemampuan kerja tertentu sehingga menjadi lulusan yang memiliki kemampuan yang relevan seperti yang diharapkan.

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bebesen sebagai salah satu unit kerja non structural dengan wilayah kerja satu Kecamatan yang bergerak di bidang penyuluhan pertanian ikut memiliki tanggung jawab social untuk berperan serta dalam memberi bekal pengalaman professional bagi siswa SMK yang mengikuti kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin).

Attaullah, SP selaku Kepala BBP Bebesen Menyatakan “Bentuk dari tanggung Jawab Sosial yang Kami Lakukan Adalah Program Penerimaan Siswa SMK 2 Takengon Sebanyak 3 orang yang akan Prakerin Selama 90 terhitung mulai tanggal 18 Agustus sampai dengan 18 November 2018 di BPP Bebesen ini”.

Peserta prakerin yang berjumlah 3 orang dari jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura (ATPH) akan dididik tentang bagaimana aplikasi lapangan terhadap teori-teori yang telah mereka dapatkan di sekolah. Para siswa akan dikenalkan dengan kondisi real bekerja di lapangan,. Seperti yang lakukan oleh BPP Bebesan Pada Hari Selasa tanggal 28 Agustus 2018 mereka langsung membawa Ahmad Yani, Henderawansyah dan Ikmal siswa prakerin dari SMK 2 Takengon kelahan usaha tani “Enti Gaboxs” yang berada di Pantan Terong, sebuah wilayah Objek Agro Wisata yang selalu menjadi Magnet luar Biasa bagi semua orang sehingga daerah ini menjadi salah satu objek dengan kunjungan yang luar biasa setiap harinya.

Hamparan tanaman pangan dan holtukultra di Pantan Terong ini memang sangat menakjubkan, aneka komoditi seperti Kubis, Kentang, Wortel, Jagung, Markisa Local, dll dapat di lihat dan disaksikan secara langsung oleh para pengunjung. Lahan usaha tani “Enti gaboxs” adalah salah satu yang menjadi objek para siswa Prakerin untuk mendapatkan pengalaman kerja lapangan secara langsung. Kebetulan pada hari tersebut adalah waktu para petani “Enti Gaboxs” untuk melakukan pengendalian hama dan penyakit, hal ini membuat hati para peserta beruntung dan bahagia karena bisa secara langsung menyaksikan step-by step cara pengendaliannya serta merasakan kondisi rill para petani yang bekerja di lahan usaha tani mereka serta mendapat kesempatan membantu petani melakukannya pengendalian hama dan penyakit tersebut sesuai teori yang di praktekan langsung dilapangan.

Ikmal dan kawan-kawanya peserta prakerin sangat antusias ketika di beri pengalaman yang berharga ini terlihat dengan seriusnya mereka mencatat apa-apa yang mereka lihat serta amati pada tanaman kentanga yang di budidayakan di areal tersebut yang varietas dan usia tanaman yang berbeda kemudian mereka diskusikan kembali dengan penyuluh dan petani tersebut di “Jamur” (Saung) “Enti Gaboxs” ketika istirahat sambil menikmati secangkir kopi dan snack ala kadarnya.

Bukan hanya pengendalian hama dan penyakit, Penyuluh BPP Bebesen juga memberikan bimbingan dan latihan untuk menyeleksi calon benih kentang baik itu grade dan kualitasnya pada hari ini Rabu 29 Agustus 2018 di Rumah Siriega Ayong Salah Seorang Petani Muda yang selama ini konsen bergelut di bidang holtikultura. Sharing informasi serta pengalamannya selama menjadi petani langsung disampaikan kepada semua siswa prakerin dengan tulus ikhlas karena baginya mereka adalah “Next Generation” yang akan menjadi petani handal dan professional sesuai disiplin ilmu yang telah dan akan mereka pelajari selanjutnya. Karena saat panen raya di Kabupaten Karawang Jawa Barat pada hari Rabu 1 Maret 2018 Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Menyatakan Para petani di Tanah Air banyak yang berusia tua dan sulit mendapatkan generasi dari pemuda.

Para penyuluh di BPP Bebesen selalu aktif terjun langsung ke wilayah kerja mereka bersosialiasi dan berbagi informasi untuk membuka cakrawala pemikiran masyarakat terutama kaum muda khususnya di bidang pertanian yang sangat menjanjikan untuk kesejahteran pelaku usaha tani dan keluarganya di masa depan salah satunya mereka dengan insten membimbing para Siswa SMK 2 Takengon yang prakerin dalam Wilayah Kerja BPP Bebesen Tersebut.

Mudah-mudahan kiprah para Penyuluh ini menjadi motivasi bagi kita dan akan berdampak positif kedepannya dan menjadikan generasi muda yang cinta pertanian untuk mewujudkan Indonesia jadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

• Riega Petani Muda Berdomisili di Dataran Tinggi Gayo




Usai PKA VII, Aceh Kembali Angkat dan Promosi GAMI Festival 2018

BARANEWSACEH.CO – Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang berlangsung awal Agustus lalu telah mendulang sukses mendatangkan wisatawan ke Aceh, kali ini provinsi yang berada di ujung barat terus gencarkan promosi wisata dan budaya, salah satunya ikut menghadirkan kegiatan Gayo Alas Mountain International (GAMI) Festival 2018.

Agenda yang dibalut dengan atraksi wisata dan budaya ini akan mengambil lokasi di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian 1500 mdpl yang membentang sepanjang Pulau Sumatera, meliputi dataran tinggi Gayo – Alas yang melewati empat kabupaten, yakni Aceh Tengah (Takengon), Bener Meriah (Redelong), Gayo Lues (Blang Kejeren) dan Aceh Tenggara (Kutacane).

Selain terkenal dengan daerah berhawa dingin, dataran tinggi Gayo – Alas juga dianugerahi dengan kondisi alam yang subur, dan sangat ideal sebagai lahan perkebunan kopi dan tanaman hortikultura.

Selain perkebunan kopi rakyat yang terhampar luas, salah satu unggulan daerah dataran tinggi yang ada di Aceh ini juga telah banyak melahirkan seniman yang berhasil mengharumkan nama Aceh dan Indonesia di mata dunia melalui pertunjukkan seni tradisinya, salah satunya tari Saman yang telah diakui dunia melalui UNESCO yang kini terdaftar sebagai khasanah budaya tak benda dunia yang perlu terus diperlihara dan dilestarikan oleh generasi muda.

GAMI Festival 2018 yang mengangkat tema “The Power of Nature” sendiri rencananya akan digelar mulai 14 September hingga 24 November 2018 di Lapangan Musara Alun, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah yang melibatkan 4 kabupaten lainnya, komunitas budaya dan pariwisata serta perwakilan dari Pemerintah (Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota lainnya).

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menaruh harapan besar kegiatan GAMI Festival 2018 ini akan menuai sukses pascagelaran PKA VII 2018 beberapa waktu yang lalu di Banda Aceh, sekaligus menjadi daya tarik dan pengalaman baru bagi setiap pengunjung untuk merasakan pesona alam dan budaya Gayo Alas.

“Penyelenggaraan GAMI Festival 2018 bertujuan tidak hanya untuk mewujudkan dataran tinggi Gayo sebagai kawasan dynamic agro-ecology dan penggerak ekonomi hijau (Green Economy) di Aceh, tapi juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kawasan berbasis 3A (Agro Forestry, Agro Industry dan Agro Tourism) sesuai potensi daerah, dan mampu menempatkan dataran tinggi Gayo dalam peta destinasi pariwisata nasional,” pungkasnya.

Tak hanya itu, kehadiran GAMI Festival 2018 sebut Nova, nantinya juga dapat mengembalikan citra dataran tinggi gayo khususnya dan Aceh umumnya sebagai destinasi wisata yang aman, nyaman dan menawan serta meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke dataran tinggi Gayo – Alas.

“Kegiatan wisata budaya ini kita harapkan juga mampu mendorong pembangunan kawasan di poros tengah melalui kegiatan kepariwisataan, kebudayaan dan pertanian, khususnya agroindustri,“ ungkap Nova Iriansyah bersemangat.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar menyambut baik dengan terpilihnya Kabupaten Aceh Tengah sebagai tuan rumah pembukaan GAMI Festival 2018.

“Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merasa bangga karena terpilih sebagai tuan rumah perdana penyelenggaraan pembukaan GAMI Festival 2018 sebagai pintu awal percepatan dan pengembangan kawasan dataran tinggi Gayo – Alas. Kami akan mendukung sepenuhnya penyelenggaraan kegiatan ini di Takengon, bekerjasama dengan semua pihak, khususnya Pemerintah Aceh, Kemenpar RI dan Kemenko PMK RI, serta penutupannya nanti pada tanggal 24 November di Kabupaten Gayo Lues,“ sebut Shabela saat memimpin rapat persiapan GAMI Festivla 2018.

Ini Dia Rangkaian Agenda GAMI Festival 2018

Rentetan rangkaian atraksi wisata alam dan budaya akan digelar selama GAMI Festival 2018 kali ini, meliputi kegiatan launching, Destination Photo Contest, Opening Ceremony, Tarian Massal, Pawai Budaya Gayo Alas, Pentas Wonderful Gayo Alas, Handicraft and Photo Expo, Coffee and Culinary Festival, Lomba Perahu Tradisional, Jet Ski Exhibition, Paramotor Show, Camping 100 Tenda, Festival Panen Kopi, Expedisi Burni Telong, Takengon Rafting, Aceh Bike Cross Country, Gathering Pesona Indonesia, Pacu Kuda Tradisional, Aceh Trail Adventure, Festival Agara, Wisata Arung Jeuram, Pelatihan Pariwisata, Festival Budaya Saman dan atraksi menarik lainnya.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Amiruddin mengungkapkan, penyelenggaraan GAMI Festival 2018 diharapkan menjadi atraksi wisata budaya yang bisa menarik minat setiap wisatawan, sekaligus memperkenalkan dataran tinggi Gayo – Alas sebagai destinasi wisata budaya dan petualang (adventure).

“Penyelenggaraan GAMI Festival 2018 dengan ragam pesona alam dan seni budaya dataran tinggi Gayo – Alas tidak hanya menjadi Top Event Aceh, sebaliknya menjadi Top Event Nasional yang didukung dengan ragam pesona alam dan budaya yang menjadi daya tarik wisatawan nusantara dan mancanegara, seperti Pesona Danau Lut Tawar, Pesona TNG Leuser, Pacuan Kuda Tradisional, Arung Jeuram, Wisata Kebun Kopi, Air Terjun, Wisata Kuliner, dan seni tradisi unik lainnya,“ ungkap Amiruddin.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani juga ikut menambahkan, penyelenggaraan GAMI Festival 2018 tidak hanya akan berdampak positif dalam mempromosikan dataran tinggi Gayo – Alas khususnya dan Aceh umumnya sebagai destinasi wisata budaya dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, namun juga menjadi momen penting membangun ekonomi masyarakat melalui kegiatan industri pariwisata berbasis ekonomi kreatif.

“GAMI Festival 2018 menjadi hajatan perdana yang digelar di dataran tinggi Gayo – Alas. Kegiatan ini tentunya bisa menarik kunjungan wisatawan seiring makin dikenalnya Aceh melalui branding wisata “The Light of Aceh”. Tahun 2017 kunjungan wisatawan mencapai sekitar 2.944.169 orang terdiri 2.865.189 wisnus dan 78.980 wisman. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 2.154.249 terdiri dari 2.077.797 wisnus dan 76.452 wisman. Kunjungan wisatawan diprediksikan akan terus bergerak naik pascagelaran PKA VII dan GAMI Festival yang kita targetkan 4 juta orang (wisnus) dan lebih 150 ribu orang (wisman) pada tahun 2018,” papar Rahmadhani.

Pujian GAMI Festival 2018 juga datang langsung dari Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya dimana peluang untuk mempromosikan daerah dapat membantu branding pariwisata Aceh.

“Penyelenggaraan GAMI Festival 2018 tentu sangat bagus. Digelar dengan waktu panjang secara berurutan di empat kabupaten bisa berdampak pada branding pariwisata Aceh. Semua wilayah mendapatkan peluang sama untuk maju,” tutup Menteri asal Banyuwangi. (GENFI)




Ayu, Penyuluh Gayo Yang Peduli Kelestarian Padi Lokal



Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*)

Sekitar 30 tahun yang lalu, nama “Oros Kebayaken” atau beras Kebayakan dari dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah adalah salah satu produk beras yang sangat dikenal di daerah ini, bahkan sempat menjadi salah satu ikon pertanian di daerah bertopografi perbukitan ini. Popularitas beras Kebayakan, nyaris menyamai ketenaran ‘Bereh Solok’ (beras Solok) dari Sumatera Barat atau beras Rojolele dan Pandan Wangi dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Rasa dan aroma beras Kebayakan yang khas dengan rasa nasi yang pulen dan aroma wanginya, sempat menjadikan beras ini sebagai beras premium ‘first class’ yang banyak di’buru’ pecinta kuliner maupun ibu-ibu rumah tangga. Ditemani lauk atau sayur apapun, nasi hangat yang berasal dari beras Kebayakan, akan selalu menjadi santapan nikmat.

Wilayah Kebayakan pada waktu itu memang merupakan salah satu sentra produksi beras di Kebayakan, dan petani di daerah ini secara turun temurun terus mengembangkan padi lokal untuk menjaga kelestarian warisan leluhur masyarakat Gayo tersebut. Dari segi produktivitas, padi Kebayakan memang tergolong rendah, hanya sekitar 4 ton per hektar, tapi dari segi harga, beras ini merupakan beras termahal di dataran tinggi Gayo. Beras Kebayakan sendiri sebenarnya bukan nama vaietas, karena yang dikenal sebagai beras Kebayakan selama ini terdiri dari dua varietas lokal yaitu Rom Poteh atau beras putih dengan ciri khas bentuk beras bulat panjang dengan warna jernih mengkilat dan Rom Ilang atau beras merah dengan bentuk sama tapi warnanya putih kemerahan.

Entah karena kondisi lahan dan agroklimatnya, padi Kebayakan memang hanya cocok dikembangkan di daerah Kebayakan dan kurang berhasil jika dikembangkan di wilayah lain di kabupaten Aceh Tengah. Khusus untuk Rom Poteh, tahun lalu sudah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pertanian sebagai varietas padi lokal spesifik nasional.

Namun seiring dengan perkembangan wilayah Kabupaten Aceh Tengah, wilayah Kebayakan yang merupakan daerah pinggiran kota, akhirnya ikut terimbas.

Lahan-lahan sawah mulai beralih fungsi menjadi bangunan sipil, baik bangunan pemerintah maupun pemukiman penduduk. Hanya dalam tempo kurang lebih tiga puluh tahun, telah terjadi penurunan drastis luas areal sawah di kawasan ini. Jika pada tahun 1990, luas lahan sawah di wilayah Kebayakan masih ada sekitar 900 hektar, kini lahan sawahnya ‘menciut’ secara signifikan, hanya tinggal 195 hektar saja (sumber Data Statistik Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, 2017), itupun sebagian telah beralih fungsi menjadi lahan hortikultura karena ketersediaan air tidak mencukupi.
Padi lokal terancam punah
Semakin menciutnya lahan sawah di wilayah Kebayakan )sekarang menjadi Kecamatan Kebayakan), secara otomatis kemudian dibarengi dengan menurunnya intensitas penanaman padi lokal ini. Kebanyakan petani pemilik lahan memang masih bertahan dengan varietas lokal ini, namun semakin menyempitnya lahan sawah yang ada, berdampak pada penurunan produksi beras Kebayakan. Akibatnya ‘Oros Kebayaken’ yang dulu sempat megah itu semakin langka di pasaran dan sulit didapatkan. Kalau kondisi demikian dibiarkan, bukan tidak mungkin, nama beras Kebayakan dalam beberapa tahun kedepan hanya akan tinggal menjadi kenangan saja.

Kondisi inilah yang kemudian memicu keprihatinan seorang penyuluh pertanian, Ayuseara Putri Gayosia yang kebetulan dalam tiga tahun terakhir bertugas di wilayah kecamatan Kebayakan. Dimata Ayu, nama panggilan penyuluh yang juga Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kebayakan ini, padi lokal di wilayah kerjanya ini merupakan salah salah satu kekayaan plasma nutfah yang keberadaannya harus tetap dipertahankan, karena pernah menjadi symbol ‘kejayaan’ daerah ini. Meski dari segi produktifitas tidak terlalu signifikan untuk mendukukng program percepatan swasembada pangan, namun keberadaan kekayaan plasma nutfah lokal ini sangat penting dan tidak ternilai harganya.

Namun sebagai seorang penyuluh pertanian, Ayu nyaris tidak memiliki ‘power’ untuk bisa berperan mempertahankan kekayaan plasma nutfah tersebut, selain hanya menganjurkan kepada petani di wilayah binaannya untuk mempertahankan varietas lokal ini. Meski demikian Ayu tidak lantas berdiam diri, secara swadaya dia mulai melakukan invatarisasi dan identifikasi beberapa jenis padi lokal yang selama ini berkembang di wilayah binaannya. Tak segan dia bertanya kepada para orang tua, tokoh masyarakat maupun pegiat pertanian di wilayah kerjanya untuk mengetahui persis varieats-varietas lokal yang pernah ‘berjaya’ pada masanya itu. Tidak adanya referensi tentang jenis atau padi lokal di kabupaten Aceh Tengah memang menjadi salah satu kendala bagi Ayau, namun dia tidak berputus asa, dan terus berusaha ‘menggali’ sendiri dari nara sumbernya. Agak kesulitan memang bagi Ayu ketika harus ‘menterjemahkan’ nama- nama padi lokal yang rata-rata menggunakan bahasa Gayo tersebut, karena nyaris tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia maupun bahasa latin.
Gayung bersambut.

Bak kata pepatah ‘Pucuk dicinta, ulampun tiba’, begitu mungkin yang kemudian membuat penyuluh cantik bertubuh ‘subur’ ini. Disaat kebuntuannya memuncak terkait literasi dan referensi tentang jenis dan varietas padi lokal yang ingin tetap dia pertahankan kelestariannya, ternyata para peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh juga punya keprihatinan yang sama. Seperti mendapat motivasi dan spirit baru, Ayu pun menyambut hangat kedatangan para peneliti dari Unsyiah dan BPTP Aceh tersebut, dan mulailah mereka melakukan pendataan riil di lapangan.

Meski harus berpanas-panas dan belepotan lumpur, Ayu dibantu teman-teman penyuluh lainnya terlihat semangat, karena ‘mimpi’nya untuk ikut berkontribusi melestarikan plasma nutfah padi lokal di wilayah binaaanya mulai mendapatkan titik terang. Dari para peneliti di kampus almamaternya itu, Ayu jadi tau bahwa sebenarnya ada sekitar 100 varietas padi lokal di Aceh Tengah, namun kini tinggal sekitar 25 persen saja yang masih bisa ditelurusi keberadaannya. Dan diantara vaietas yang masih bisa ditemui jejaknya adalah Rom Poteh dan Rom Ilang yang dikenal sebagai Rom Kebayaken atau Padi Kebayakan yang selama ini menjadi sumber keprihatinannya, karena kelestariannya mulai terancam.

Penyuluh yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Unsyiah kelahiran 28 Agustus 1980 ini kini agak sedikit lega, upayanya untuk ikut melestarikan plasma nutfah lokal asali di daerahnya kini mulai ‘menemukan jalan’nya. Beberapa varietas padi lokal Aceh Tengah yang telah berhasil diidentifikasi, rencananya akan akan dimurnikan di laboratorium BPTP Aceh di Keumala, Pidie dan pada waktunya nanti akan dikembalikan ke daerah asalnya untuk dikembangkan oleh petani.

Dengan beberapa proses adaptasi, bisa saja padi Kebayakan ini nantinya bisa dikembangkan di wilayah lain di kabupaten Aceh Tengah, bahkan di luar Aceh Tengah, karena untuk wilayah Kebayakan mulai terkendala dengan semakin menciutnya lahan sawah akibat alih fungsi lahan yang sepertinya tidak bisa dibendung. Jika padi Kebayakan bisa dikembangkan di wilayah lain, Insya Allah kejayaan beras Kebayakan akan kembali terulang. Jika program pelestarian ini berhasil, nama beras Kebayakan kemungkinan akan kembali ‘bersinar’ bersama beras unggul lokal lainnya dari Aceh seperti beras Tangse, beras Keuamala dan beras Pulo Aceh.

Dari segi aroma dan rasa beras Kebayakan dan beras lokal Aceh lainnya memang tidak kalah dengan beras Ramos, Rojolele maupun Pandan Wangi. Beras Kebayakan adalah ‘legenda’ pertanian Gayo, dan jika kelestariannya tidak mendapatkan perhatian para pihak, suatu saat kelak bukan tidak mungkin hanya menjadi legenda. Dan Ayuseara Putri Gayosia, SP, MP, penyuluh berdarah asli Gayo ini tidak rela kalao kekayaan plasma nutfah lokal didaerahnya musnah tanpa upaya apapun.
Dan jika suatu saat ‘Oros Kebayaken’ kemudian mampu bersanding dengan beras premium lainnya dari berbagai wilayah Indonesia di swalayan atau super market, jangan lupa Ayu pernah punya andil disana.
*) Staf Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, contributor berita/artikel pertanian di media cetak dan online.




Melengkan Tradisi dan Seni tutur Sapa Gayo Yang Telah Hilang

 

Bener Meriah, Baranewsaceh.co – “Reje…atas kire baur kelieten, lebih atas ilen tenampuk ni reje, kolak kire laut tawar itakingen, lebih kolak ilen kekawar ni reje. Ujen berasal angin berusul, perbueten muasaliyah. Taris nume kirimen, rempele nahma ujud te keta ini le si kami enahen ku ama reje”.

Sepertinya bait – bait syair tersebut, adalah ungkapan melengkan yang diselingi teka teki (ure ure) pantun bersambut yang di balut peri bahasa seni bertutur sapa yang dalam istilah bahasa Gayo di sebut “melengkan”

Melengkan “Melainkan” adalah ungkapan peri bahasa Gayo berupa tamsilan, sementara arti dari ungkapan tersebut, bisa bermakna lain. ” Yang di maksud adalah padi, ujungnya pasti beras, tapi bukan beras ” Melainkan” beras pulut. Karena sumbernya tetap padi, tetapi padi arang (pedarang).
Inilah warna tersendiri dari tradisi berbalas pantun dalam prosesi mengantar mempelai baik dalam sesi penerimaan dan penyerahan calon pengantin.

Gecik Mongal adalah sosok tokoh Gayo yang terkenal ahli dalam bermelengkan. Tapi sangat disayangkan marwah bahasa Gayo yang terkemas dalam bahasa melengkan dan pepatah dan petitih Gayo telah hilang. Minsal, umpama,Tamsil dan ibarat adalah bahagian dari bahasa komunikasi Gayo yang terkadang sulit untuk dimaknai, terkadang mengharuskan kita untuk kembali memasang insting dan logika untuk membaca arti dari ungkapan kata Melengkan yang sebenarnya.

PP nomor 48 tahun 2014 yang di tanda tangani oleh presiden Susilo Bambang Yudoyono seakan menghentikan langkah dan hilangnya seni bertutur Gayo yang satu ini. Eksistensi bahasa adat melengkan tamat sudah riwayatmu. Melengkan hilang oleh regulasi dan aturan peradaban baru.

Melengkan adat betutur sapa Gayo, yang telah terwariskan dari generasi ke generasi, kini hanya menyisakan pelakunya saja, tanpa tahu kapan dan dimana lagi bahasa melengkan tersebut akan di perdengarkan kembali.

Sadar atau tidak sadar bahwa 5 Kabupaten khususnya di wilayah tengah Provinsi Aceh. Punya tata cara tersendiri dalam pelaksanaan penyerahan calon pengantin sebelum dan sesudah pelaksanaan ijab kabul. Namun peraturan baru pemerintah melalui kementrian agama telah mengharuskan kedua calon pasutri menikah di kantor Urusan Agama (KUA). Kalaupun kita rindu dengan bait bait tutur kata melengkan, biasanya keluarga dari pihak mempelai harus mengeluarkan biaya senilai Rp. 600.000 (enam ratus ribu rupiah) untuk bisa melakukan kembali akad nikah di kampung tempat berlangsungnya acara pesta.

Pemerintah pusat lewat kementrian pendidikan dan kebudayaan terus berupaya mempertahankan dan melestarikan kebudayaan dan menghormati kearifan lokal, sebagai mana tertera dalam peraturam menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 10 tahun 2014 tentang pedoman pelestarian tradisi. Disisi lain Pemerintah juga menjadi biang dari lenyapnya sebagian dari warisan tradisi budaya leluhur negeri ini terkait telah diterbitkannya PP nomor 48 tahun 2014, tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Maka sejak itu pula proses akad nikah bagi calon pasutri harus dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA)

Peraturan tersebut juga berisi tentang Jenis Tarif Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang ada di lingkungan Kementerian Agama. Pada intinya Peraturan pemerintah tersebut adalah tentang pengaturan tarif nikah agar tidak ada lagi kasus gratifikasi di kalangan penghulu dan Imam Kampung.

Selain itu PP tersebut juga mengatur tentang dua kelompok tarif nikah, yakni nol rupiah bagi pengantin yang melakukan pencatatan pernikahan di dalam Kantor Urusan Agama (KUA) dan tarif Rp 600 ribu bagi pencatatan pernikahan di luar KUA atau di luar jam kerja penghulu.

Lalu di mana hak otonomi dan ke khususan dari Provinsi Aceh. Majelis Adat Aceh, dan lembaga wali nanggro yang harus yang harus menjadi sorotan dalam hal ini.

Karena kedua lembaga ini punya peran strategis dalam upaya mengembalikan marwah dan khazanah budaya Gayo yang mulai sirna. Karena salah satu tupoksi dari Wali Nanggro adalah mengawasi adat istiadat.

Sapri Gumara seorang tokoh seniman dan budayawan tanah Gayo di bantu sejumlah aktivis pemerhati budaya terus melakukan upaya agar, agar proses adat melengkan dan tradisi tepung tawar dan lain sebagainya dapat kembali seperti semula.

Selanjutnya proses akad nikah juga bisa di lakukan seperti sedia kala. Langkah langkah gerilyapun harus di tempuh, karena menurut Gumara Majelis adat aceh (MAA) sudah memberikan sinyal positif kearah itu. Tentu semua itu harus melalui mekanisme dan kerja keras semua pihak melalui proses dan waktu yang panjang untuk menyelesaikannya tuturnya kepada sejumlah awak media seniman dan budayawan pada pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) dalam sesi penyerahan Rempele di Anjungan Kabupaten Aceh Tengah beberapa waktu yang lalu. (Hamdani)