oleh

“Banjir’ Nanas di Dataran Tinggi Gayo

banner 300x250
image_pdfimage_print


Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*)

Memasuki bulan Agustus 2018 ini, salah satu komoditi pertanian unggulan di Dataran Tinggi Gayo kabupaten Aceh Tengah yaitu Nanas Pegasing, kembali memasuki masa panen raya. Sejak tahun 1990 an wilayah kecamatan Pegasing yang berada pada lintasan jalur utama Takengon-Isaq-Blang Kejeren itu memang sudah dikenal sebagai sentra produksi nenas di daerah berhawa sejuk ini. Dan bulan Agustus – September  adalah masa yang ditunggu-tunggu oleh para petani, karena mesuki bulan ini, biasanya memang terjadi ‘banjir’ buah bersisik ini.

Tak mengherankan jika dalam beberapa minggu terakhir ini nanas Pegasing yang dikenal memiliki rasa manis dan aroma khas ini mulai ‘membanjiri’ pasar tradisional di kota Takengon dan sekitarnya. Begitu juga yang terlihat di sepanjang jalan di wilayah kecamatan Pegasing, buah-buah nanas segar yang baru dipetik dari pohonnya, ‘dipajang’ dan sebagian disusun rapi di kios-kios penjaja buah nanas maupun kafe poles (rujak nanas khas Pegasing, Aceh Tengah).

Pengguna jalan yang kebetulan sedang melintas, bisa singgah untuk menikmati poles nanas yang merupakan perpaduan manisnya buah nanas Cayyene dengan bumbu kacang, cabe rawit dan gula merah. Atau bagi yang tidak sempat singgah lama, bisa membeli buah nanas dengan harga yang sangat terjangkau, untuk ukuran sedang bisa diperoleh dengan harga 5 ribuan saja, sementara untuk yang berukuran besar dan jumbo, cukup di’mahar’i dengan 10 -15 ribu rupiah saja. Sedangkan untuk seporsi nanas poles lengkap dengan bumbunya, cukup diganti dengan 10 rupiah saja, cukup murah kan?. Pondok-pondok poles nanas yang banyak ditemui di sepanjang jalan lintasan utama ini juga bisa jadi wahana refreshing keluarga, untuk menghilangkan kepenatan dari aktifitas keseharian, karena tempatnya juga cukup nyaman untuk bercengkerama bersama kelauraga maupun para relasi..

Jenis nanas yang dikembangkan di wilayah kecamatan Pegasing, Aceh Tengah ini, sebagian besar adalah varietas Cayyene yang berciri khas buah rata-rata berukuran besar dengan aroma segar , rasa sangat manis dan tekstur buah renyah dengan sedikit serat. Nenas Pegasing semakin dikenal ketika mampu meraih Juara 2 dalam Kontes Buah yang diselenggarakan pada ajang Pekan Nasioonal (PENAS) ke XV di Banda Aceh tahun 2017 yang lalu.  Istimewanya lagi, karena rasanya yang sangat manis, nanas Pegasing dapat disantap kapan saja tanpa harus takut sakit perut, karena tingkat keasamannya relatif rendah.

Berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan olahan

Meski sudah berpuluh tahun menjadi sentra produksi nanas, namun sampai saat ini produk nanas hanya dijual dalam bentuk buah segar atau poles nanas, belum ada upaya untuk mengolah nanas ini menjadi produk-produk pangan olahan yang nilai jualnya bisa lebih tinggi dan lebih menguntungkan petani. Pada saat panen raya seperti sekarang ini, produksinya berlebih dan tidak semuanya bisa terserap pasar, padahal dengan sedikit sentuhan kreativitas, nanas bisa diolah menjadi selai, sirup, dodol, bolu, cake, es krim bahkan keripik nanas yang nilai jualnya tentu saja lebih tinggi. Bahkan jika serius dikembangkan, bisa menjadi produk oleh-oleh khas Aceh Tengah bagi para wisatawan yang mengunjungi daerah ini, karena kabupaten Aceh Tengah juga dikenal sebagai salah satu daerah destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan luar daerah maupun manca negara.

Dari aspek produksi, wilayah ini sudah tidak diragukan lagi karena kondisi lahan dengan tekstur tanah berpasir dan dukungan agroklimatnya, memang sangat sesuai sebagai syarat tumbuh komomoditi Nanas. Beberapa tahun silam, pernah ada investor yang berniat mendirikan pabrik pengalengan nanas disini, namun rencana tersebut sampai sekarang tidak pernah terwujud, entah kendala apa yang menyebabkannya. Sebenarnya tanpa kehadiran pabrik pun, upaya meningkatkan nilai ekonomis produksi nanas Pegasing ini dapat dilakukan oleh pemerintah daerah setempat dengan membina industri kecil dan industri rumah tangga untuk menghasilkan produk pangan olahan berbahan dasar nanas ini. Di daerah tujuan wisata lainnya, sebagian besar produk pangan olahan yang kemudian menjadi oleh-oleh khas daerah tersebut, sebagian besar ditopang oleh industri pengolahan hasil skala kecil atau skala rumah tangga. Tentunya harapan kita, wacana seperti ini dpat disahuti oleh para pihak, sehingga nanas Pegasing yang sudah punya ‘nama’ ini akan semakin mendongkrak kesejahteraan petani. Jika ‘wacana’ ini dapat direalisasikan, bisa menjadoi potensi ekonomi yang luar biasa bagi perekonomian di tanah Gayo, dan tentunya akan berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

*)Staf Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, kontributor artikel dan berita pertanian di media cetak dan online.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed