banner 728x150

Atasi Mahalnya Benih Kentang, Lakukan Perbanyakan dengan Stek Batang

by


(Catatan perjalanan ke Pengalengan, Bandung)

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq *)

Ketersediaan bibit atau benih berkualitas dengan harga murah dan mudah didapatkan, sampai saat ini masih menjadi kendala bagi para petani kentang, terutama di luar Jawa, termasuk di Dataran Tinggi Gayo yaitu kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kebanyakan petani di daerah ini masih mengandalkan benih kentang kulaifikasi G-1 dan G-2 (generasi pertama dan kedua) dari luar daerah, khususnya dari Pengalengan, Bandung. Jauhnya jarak antara Pengalengan dengan dataran tinggi Gayo, membuat harga benih kentang menjadi sangat mahal, disebabkan oleh tingginya biaya transportasi dan penyusutan selama pengangkutan.

Untuk mengembangkan benih G-1 dan G-2, memang tidak mudah, karena dibutuhkan benih murni G-0 yang merupakan hasil pengembangan kultur jaringan di laboratorium, sementara sampai saat ini Gayo belum memiliki ahli laboratorium kultur jaringan, meskipun sebenarnya di daerah ini juga sudah memiliki Balai Benih Induk (BBI) Kentang lengkap dengan laboratoriumnya. Inilah yang kemudian ‘memaksa’ petani, mau tidak mau harus mendatangkan benih kentang G-1 dan G-2 dari pulau Jawa.

Dari hasil penelusuran penulis ke Balai Pengembangan Benih Kentang (BPBK) Pengalengan, Bandung maupun pada penangkar benih kentang di seputaran Pengelengan, harga benih kentang G-1 dan G-2 berada pada kisaran Rp 23.000,- sampai 27.000,-. Ketika benih kentang tersebut sampai di dataran tinggi Gayo, harganya bisa ‘melonjak menjadi Rp 38.000,- sampai Rp 40.000,-. Tentu dengan harga sebesar itu, biaya produksi untuk pengadaan benih yang harus dikeluarkan oleh petani kentang di Gayo menjadi sangat tinggi. Untuk satu hektar lahan, dibutuhkan benih sekitar 1,5 ton, artinya biaya pengadaan benih bisa mencapai 57 sampai 60 juta rupiah, belum lagi untuk biaya pengolahan lahan, pengadaan pupuk dan pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Benih kentang G-1 dan G-2, memang masih bisa ditangkarkan lagi oleh petani sampai dengan turunan ke 5 (G-5), namun pada turunan berikutnya (G-6 dan seterusnya), produktivitasnya akan mengalami penurunan signifikan, sehingga tidak layak lagi dijadikan benih. Dalam kondisi demikian, petani harus mendatangkan kembali benih G-1 dan G-2 dari luar daerah, yang kemudian menjadi kendala bagi petani yang hanya meiliki modal ‘pas-pasan’

Perbanyakan benih kentang dengan stek batang jadi alternative solusi.

Namun kendala yang dihadapi oleh petani kentang di Gayo selama ini, bukanlah hambatan untuk terus mengembangkan komoditi hortikultura ini, karena komoditi ini memiliki prospek ekonomi yang cukup bagus dan permintaan konsumen akan produk pertanian ini terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Ketika mengunjungi Balai Pengembangan Benih Kentang (BPBK) di Pengalengan, kabupaten Bandung dalam rangka studi banding penyuluh pertanian Aceh Tengah beberapa waktu yang lalu, penulis mendapat ‘ilmu’ baru, tentang perbanyakan benih kentang yang lebih  urah dan mudah dan bisa dilakukan oleh petani dengan bimbingan penyuluh pertanian yang kebetulan juga sudah pernah mengunjungi balai ini. Menuruti penjelasan yang penuliskan dapatkan dari seorang pakar dan pemulia tanaman kentang pada BPBK, Ir. Rusmana Agus Sanjaya, M Sc, perbanyakan benih kentang ternyata dapat dilakukan tanpa umbi. Lebih lanjut Kang Agus, panggilan akrabnya, perbanyakan benih kentang juga dilakukan dengan sistim stek batang, yaitu dengan potongan batang kentang muda yang baru tumbuh, kemudian disemaikan dalam polibag kecil media tanam lainnya yang mudah didapatkan, misalnya potongan bambu atau gelas plastik bekas air mineral..Setelah perakarannya mulai tumbuh, stek tersebut dipindahkan dalam media tanam berupa kotak kayu yang sudah berisi pupuk kandang dan agens hayati tricodherna untuk mencegah serangan hama dan penyakit tanaman. Dalam 4 – 6 minggu, tanaman yang berasal dari stek batang ini akan menghasilkan umbi-umbi kecil yang siap untuk dijadikan benih di lahan.

Kang Agus mengungkapkan, stek batang yang berasal benih kentang G-1 dan G-2, akan memiliki sifat genetik sama dengan induknya, artinya meski dari stek batang ini hanya berupa umbi-umbi kecil, namun benih hasil perbanyakan dengan sistim stek batang ini, juga akan memiliki sifat genetik sama dengan tanaman yang berasal dari benih G-1 dan G-2 dalam bentuk umbi yang berukuran lebih besar. Ini tentu menjadi solusi yang sangat menguntungkan bagi petani, karena dengan sistim ini, petani hanya membutuhkan benih dalam bentuk umbi sepertiga dari total kebutuhan, yang dua pertiganya dapat dipenuhi dengan perbanyakan melaui stek batang.

Langkah perbanyakan benih kentang dengan stek batang.

Ketika memberikan penjelasan kepada penulis dan para penyuluh yang sedang melakukan study banding ke BPBK, Kang Agus secara detil menjelaskan proses perbanyakan benik dengan cara stek batang ini.

Langkah pertama adalah menyeleksi tanaman yang cocok untuk menjadi tanaman induk, tanaman terbaik yang akan dijadikan sumber stek batang adalah tanaman yang menuju dewasa dimana daunnya belum banyak muncul, kira-kira berumur 2 minggu setelah ditanam.

Langkah kedua, untuk mencegah penyebaran virus kontak dan penyakit-penyakit lainnya, cucilah tangan dan pisau dengan detergen atau semprot dengan aduadestl sebelum melakukan pemotongan dan pakailah pakaian yang bersih.

Langkah ketiga, lakukan pemotongan batang tanaman kentang 2-3 cm di atas permukaan tanah. Kemudian potong-potong setiap potongan terdiri dari satu daun dan bakal tunas lalu tanam pada media tanam berupa polybag kecil atau lainnya yang berisi campuran tanah dengan pupuk kandang ditambah zat perangsang tumbuh dengan konsentrasi 0,01persen atau 1 ml ZPT dicampur dengan 1 liter air.. Untuk menghindari kelayuan, lindungi bahan untuk stek tunas daun dengan kertas lembab.

Langkah keempat, tempatkan stek pada media dengan tunas di bawah permukaan media dengan baik, hindari overlaping dari daun. Setelah perakarannya mulai terlihat (umur 5 – 7 hari), stek sudah bisa dipindahkan ke media tanam berupa kotak kayu yang sudah berisi campuran tanah, pupuk kandang/kompos dan trichoderma Tanaman ditanam dalam barisan, jarak tanam stek bervariasi tergantung lebar daun. Jarak tanaman yang normal antara 5-7 cm. Tekanlah media tanam, agar terjadi kontak antara stek dengan media tanam..

Langkah kelima , siram dengan semprotan yang halus, hindari penyiraman dengan semprotan yang kuat karena akan merusak kontak antara daun dengan media. Untuk melindungi daun dari kelayuan dan menghindarkan penyinaran yang terlalu panas dapat digunakan naungan berupa plastic sarlon atau jenis naungan lainnya.

Langkah keenam, umbi kecil mulai terbentuk setelah satu atau dua minggu, hasil dari penaman dengan stek daun ini berupa umbi kecil yang disebut Tuberlet  yang dapat  dipanen setelah semua daun mati atau 4 – 6 minggu setelah tanam, tergantung dari varietas dan temperatur.

Langkah ketujuh, Tuberlet yang diproduksi rata-rata berukuran 0,5 – 1 cm atau sebesar kelereng kecil, setelah dipanen, umbi-umbi kecil ini kemudian disimpan di tempat sejuk namun tidak lembab, untuk merangsang pertumbuhan tunas. Setelah bakal tunas sudah mulai terlihat, benih kentang ‘mini’ ini sudah siap  dijadikan benih tanaman untuk ditanam di lahan. Karena sifat genetic dari induknya tidak berubah, tuberlet yang hanya berupa umbi-umbi berukuran kecil ini, ketika ditanam di lahan, juga akan dapat menghasilkan produktivitas yang sama dengan induknya, yaiyu umbi-umbi berukuran besar. Seperti benih yang berasal dari umbi besar, hasil perbanyakan benih dengan sistim stek batang ini, juga bisa ditangkarkan lagi sampai turunan ke 5, dengan produktivitas rata-rata yang tidak jauh berbeda dengan benih induknya.

Cukup mudah bukan?, namun meski kelihatannya mudah dan sederhana, perbanyakan benih kentang dengan sistim stek batang ini harus dilakukan secara cermat dan teliti, serta tidak dilakukan secara sembarangan. Yang perlu diperhatikan adalah, sumber stek harus berasal dari benih yang benar-benar sehat, begitu pesan Kang Agus.

Untuk tahap awal, instansi teknis pertanian bersama penyuluh pertanian yang pernah menimba ilmu di BPBK inilah yang harus terlebih dulu mencobanya di lahan atau areal Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) masing-masing. Setelah berhasil dengan percobaan tersebut, kemudian ajak para petani dan juga peangkar benih untuk belajar bersama mempraktekkan cara perbanyakan benih dengan sistim stek batang ini melalui kursus tani atau pelatihan. Setelah petani mahir, penyuluh tinggal melakukan pendampingan dan bimbingan ketika para petani mulai mepraktekkan cara perbanyakan benih ini di lahan mereka.

Dengan sinergi yang baik, Insya Allah, masalah kelangkaan dan mahalnya harga benih kentang yang selama ini menjadi kendala bagi petani di Gayo, akan dapat teratasi dengan menerapkan ‘ilmu’ baru ini. Meski bagi para penangkar benih kentang d Pengalengan, bukan hal yang baru, namun bagi petani Gayo, masih butuh pembelajaran intensif untuk bisa mengadopsi teknologi perbenihan ini.

Ketika ada sesuatu yang bermanfaat yang dilihat dan didengar dari obyek studi banding, kemudian bisa diadopsi dan diterapkan di daerah asal, maka itulah esensi dari study banding penyuluh, seperti yang dilakukan oleh para penyuluh pertanian Aceh Tengah di Pengalengan, Bandung baru-baru ini. Tanpa adopsi teknologi, studi banding, tidak akan lebih dari sekedar jalan jalan biasa.