banner 1280x334

Apatiesme dan Kemunduran Mahasiswa Sebagai Fungsinya

by

Oleh : Asrul Amin

Kader GMNI Aceh sekaligus Mahasiswa STAIN Gajah PutihBaranewsaceh.co

Mendengar Kata Mahasiswa  tentu kita tidak asing lagi, Sebahagian besar mahasiswa dikenal  sebagai salah satu manusia yang intelektualitas, identiknya mereka kritis, idealis, idependen yang keberadaanya berada  dalam birokrat dan ditengah tengah masyarakat pada umumnya.

Sebuah Kampus dan mahasiswa merupakan suatu keterpaduan identitas yang tidak bisa dipisahka, karena kata mahasiswa memposisikan kepribadian seseorang  yang intelektual yang berada didalam kampus, namun sebagian pendapat para mahasiswa menyatakan  itu tidak tepat, bagi yang apatis.  sebagian dari mereka mengganggap bahwa kampus merupakan tempat bersenag senang, berhura hura, meghindari kerjaan rumahan,  bagi mereka yang tidak tertarik dengan dinamika kampus sebenarnya. Cinta, Senag-Senag da Buku,; mungkin itulah kata kata yang bisa  untuk menggambarkan begitu bernilainya suatu tempat yang bernama kampus tersebut.

Menurut Saya Apatis itu adalah Hilangnya perasaan. Emosional, simpatik pada Jiwa Seseorang  yang menyebabkan tidak ada keperdulian terhadap lingkungan sekitarnya, Yah mungkin bisadikatakan begitu.

ada beberapa tahapan atau level tingkat ke-Apatisan seseorang sebagai mahasiswa yaitu diantaranya : Apatis Tingkat 1 ( Rendah ), tingkatan ini biasanya di isi oleh para mahasiswa  yang tidak ambil peduli dengan situasi dan kondisi yang terjadi disekitarnya. kemudian Apatis Tingkat 2 ( sedang )pada tingkatan ini biasanya diisi  oleh para mahasiswa yang peduli dengan situasi dan kondisi, namun mereka ini enggan dalam bertindak. kemusian Apatis tinggkat 3 ( Maju ); tingkatan ini biasanya diisi oleh mahasiswa yang peduli dengan situasi dan kondisi yang terjadi disekitarnya, mahasiswa yang berada dalam tingkat ini biasanya mmenindak lanjuti dalam segala bentuk, mereka tidak bisa menonton dan diam saja.

Mungkin mahasiswa dipercayai sebagai Agen of Change dari sebuah zaman. berbagai sejarah mencatat bahwa telah banyak di warnai oleh para aktivis aktivis kampus, seperti yang kita ketahui pada tahun 1998 jatuhnya presiden soeharto hingga sampai dengan hampir saja presiden indonesia yang ke-6 terzungkirkan, berdasarkan sejarah tersebut dapat kita lihat tak terlepas dari para pergerakan pergerakan mahasiswa di indonesia.

Mungkin latar belakang timbulnya keapatisan pada diri mahaswa salah satu penyebabnya adalah merujuk pada, pergaulan Mahasiswa , adanya intimidasi dari para elmen pemerintahanya, kondisi Sosial dan ekonomi, timbulnya anggapa mahasiswa bahwa pengurus lembaga  hanya memiliki satu bakat saja misalnya demokrasi, kemudian timbulnya anggapan mahasiswa bahwa organisasi dapat menghambat prestasi di bidang akademik, terjadinya gaya hidup hura-hura yang bisa melumpuhkan karakter mahasiswa, timbulnya tidak sejalan dan satu tujuan pada mahasiswa dan mungkin masih banyak penyebab-penyebab yanglainya yang dapat menimbulkan ke-apatisan Mahasiswa.

Sejarah juga mencatant pada tahun 1996 para mahasiswa pada waktu itu melakukan  gerakan gerakan sebagai  tanda bahwa mahasiswa  berada dalam tubuh rakyat dan ada untuk rakyat. yaitu dengan mengadakan aksi protes besar-besaran yaitu penurunan kabinet dwikora, penurunan harga sembako hingga pembubaran  PKI serta ormas – ormasnya yang dinggap menyengsarakan rakyat, begitu lah seharusnya. Mahasiswa tidak hanya harus unggul dalam bidang akademik saja tetapi mahasiswa harus mampu melaksanakan Tri-darma perguruanya sebagai sarana Agen Of Change yaitu bersama dengan rakyat dan dan berada pada rakyat.

Merujuk pada gelar mahasiswa dan fungsinya untuk mempertahankan kekuatan keuatanya yang pernah ada tentu perlu adanya tindakan yang yang serius dalam menyikapi permasalahan mahaiswa apatis saat ini, beberapa tindakan pertama yang harus kita kitalakukan adalah ketika ospek mahasiwa baru, karna pada saat itu sangatlah penting,  massa  ini pola fikir mahasiswa sangat labil karna masih dalam tahap transisi pola fikir siswa menjadi mahasiswa.

Kemudian  selanjutnya adalah menjaring mahasiswa apatis langsung ke tempat dimana mereka berada, dimana tempat yang  sering ia gemari, atau tempat nongkrong nya, misalnya kampus, caffe atau tempat lainnya yang  biasanya mereka anggap tidak memperhatikan kepentingan mereka atau tidak satu pemikiran dengan mereka. Dengan cara jemput bola seperti ini, mereka merasa diperhatikan dan aspirasi mereka bisa tersalurkan.