oleh

Aceh Tengah Prioritas Pengembangan Sentra Produksi Bawang Merah Tahun 2019

image_pdfimage_print

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

Keberhasilan kabupaten Aceh Tengah dalam mengembangkan komoditi bawang merah dalam beberapa tahun terakhir, akhirnya mendapatkan respond an apresiasi positif dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. Ketika menghadiri acara panen bawang merah di desa Pedemun kecamatan Lut Tawar beberapa waktu yang lalu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan, SP, MM pernah menyatakan bahwa kabupaten Aceh Tengah memiliki potensi luar biasa dan layak diproyeksikan sebagai salah satu daerah sentra produksi bawang merah di Aceh, bahkan di Sumatera. Dari data statistik pertanian, sampai dengan akhir tahun 2017, luas pertanaman komoditi bawang merah di kabupaten Aceh Tengah mencapai 485  hektar, sementara potensi pengembangannya mencapai 2.000  hektar, tersebar hampir di semua wilayah kecamatan di daerah ini. Jika seluruh potensi lahan ini digarap secara optimal, setidaknya 50 persen kebutuhan bawang merah di provinsi Aceh akan mampu dipasok dari daerah ini.

Menindak lanjuti pernyataan Kadistanbun Aceh tersebut, pada tahun 2019 yang akan datang, kabupaten Aceh Tengah diprioritaskan untuk pengembangan sentra produksi bawang merah di provinsi Aceh yang akan dibiayai melalui anggaran APBA. Kesepakatan tersebut dihasilkan dari Workshop Penyusunan Program/Kegiatan Dinasa Pertanian dan Perkebunan Aceh Final Tahun 2019 yang digelar di Banda Aceh tanggal 1 November 2018 lalu. Selain Aceh Tengah, dua kabupaten lain juga ditetapkan sebagai sentra produksi bawang merah di Aceh yaitu kabupaten Aceh Besar dan Pidie. Kedua kabupaten ini dinilai layak untuk pengembangan sentra produksi bawang merah dataran rendah, sementara kabupaten Aceh Tengah dinilai berpotensi sebagai sentra produksi bawang merah di dataran tinggi.

Saree jadi sentra produksi Alpukat.

Selain menyepakati alokasi pengembangan sentra bawang merah di ketiga kabupaten, dalam workshop yang dibuka langsung oleh Kadistanbun Aceh, A. Hanan tersebut, juga disepakati pengembangan sentra produksi alpukat di kawasan Saree, Aceh Besar. Kawasan ini dinilai layak untuk pengembangan sentra produksi Alpukat, karena berdasarkan hasil inventarisasi dan investigasi teknis, daerah ini memenuhi persyaratan teknis untuk pengembangan komoditi Alpukat.

Kawasan Saree selama ini sudah dikenal sebagai sentra produksi palawija seperti singkong dan ubi jalar, juga merupakan daerah penghasil hortikultura seperti papaya, bengkuang, pisang dan beberapa jenis buah-buahan lainnya, termasuk alpukat.  Sebagian besar lahan pertanian di kawasan ini sudah lama dikembangkan sebagai areal pertanaman komoditi semusim, sehingga dianggap layak untuk pengembangan komoditi alpukat dengan pola tumpang sari dengan tanaman palawija maupun dengan tanaman semusim lainnya.

Selain fokus pada pengembangan sentra produksi hortikultura, workshop penyusunan program/kegiatan Distanbun Aceh tahun 2019 ini juga mengakomodir kegiatan dan program pendukung program prioritas Kementerian Pertanian seperti Program Percepatan Swasembada Pangan melalui Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Padi, Jagung, Kedele, Bawang Merah, Cabe, Sapi dan Tebu (Pajale Babe Sate) dan Pengembangan Mekanisasi Pertanian. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed