oleh

Mengeja Akar Terorisme dan Realitas Penindakannya

Jeri Prananda

Oleh : Jeri Prananda

Saat ini “Terorisme” menjadi diskursus menarik bagi banyak orang. Arus opini yang berkembang terorisme seolah inheren dengan Islam dan kelompok Islam yang dicap radikal. Bahkan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) membuat kesimpulan bahwa ideologi radikal adalah akar dari terorisme. Di Indonesia kelompok Islam yang cap radikal cukup beragam, namun apakah benar bahwa mereka adalah pilar utama fenomena terorisme? Untuk menjawab pertanyaan di atas, diperlukan komponen yaitu hati yang lapang jauh dari sikap emosional dan tendensius, pengetahuan yang cukup terkait realitas kelompok “radikal”, sikap obyektif dan kejujuran. Di samping perlu berani keluar dari jebakan mainstream diskursus Terorisme dan bergeser dari metodologi analisis kerangka kultural yang berkutat kepada persoalan keterkaitan ideologi dan motif dari pelaku terorisme. Kenapa demikian?

Berikut perspektif yang penulis paparkan. Di luar perdebatan definisi terorisme yang tidak ada konsensius global sampai saat ini, sejatinya terorisme adalah fenomena komplek yang lahir dari beragam faktor yang juga komplek. Ada faktor domestik seperti kesenjangan ekonomi, kemiskinan, ketidakadilan, marginalisasi, kondisi politik dan pemerintahan, sikap represif rezim yang berkuasa, kondisi sosial yang sakit, dan faktor lain yang melekat dalam karakter kelompok dan budaya. Ada faktor internasional seperti ketidakadilan global, politik luar negeri yang arogan dari negara-negara kapitalis, imperialisme fisik dan non fisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara superpower, dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya. Selain itu adanya realitas kultural terkait substansi atau simbolik dengan teks-teks ajaran agama yang dalam interpretasinya cukup variatif. Faktor-faktor tersebut kemudian bertemu dengan faktor-faktor situasi yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme.

Oleh karena itu, untuk menjelaskan fenomena teror di Indonesia membutuhkan kerangka analisis yang tepat, karena akan berimplikasi kepada pemahaman tentang terorisme dan solusinya. Realitasnya terorisme memiliki tiga komponen yakni, pelaku teror, tindakan teror dan Sasaran teror. Yang pertama melalui kerangka kultural membedah perilaku, sikap dan perbuatan sebagai penjelmaan, sistem kepercayaan atau ideologi. Metodologi ini fokus membaca korelasi antara nilai atau ideologi dengan teroris, intinya adalah interpretasi nilai terhadap aksi. Dari inilah Islam dan umatnya menjadi fokus perhatian, bahkan sering kali kemudian lahir simplikasi tentang ideologi radikal atau kelompok radikal sebagai akar terorisme. Karena radikalisme seolah menjadi inheren dari Islam dan umatnya. Jika terjebak pada kerangka ini sebenarnya akan makin sulit menjelaskan secara tuntas, lengkap dan obyektif tentang sebab terjadinya teror, karena diabaikannya komponen ketiga yaitu sasaran teror. Kerangka ini bermanfaat untuk menjelaskan modus teror, tapi belum mampu menjawab soal mengapa sekelompok orang memilih teror? Mengapa pihak tertentu menjadi sasaran teror? Dan kenapa tindakan teror tersebut muncul di waktu-waktu tertentu padahal variabel kultural menyangkut doktrin nilai, ideologi atau agama seperti jihad dan semisalnya. Sudah eksis berabad-abad yang lalu? Di sinilah pentingnya menggunakan kerangka berpikir rasional, di mana metodologi ini mengkaji korelasi antara teroris dan sasaran dalam aspek kesamaan-kepentingan.

Dalam kerangka ini teroris dan sasaran terornya diletakkan sebagai aktor rasional dan strategis. Rasional dalam arti tindakan mereka konsisten dengan kepentingannya dan semua aksi mencerminkan tujuan mereka. Strategis dalam artian pilihan tindakan mereka dipengaruhi oleh langkah aktor lainnya dan dibatasi oleh kendala yang dimilikinya. Kerangka kultural berasumsi nilai menghasilkan tindakan, sementara tindakan sangat tergantung persepsi dan pemahaman ideologi yang dimiliki teroris. Dengan ini semata akan berdampak parsial memahami terorisme dan menyeret publik kepada profil teroris dan tindakan terornya semata sementara sasaran teror di abaikan. Dampak turunannya adalah solusi yang temporer dan parsial. Sementara kerangka rasional berasumsi kalkulasi strategis antar aktor menghasilkan teror. Ini mengharuskan evaluasi terhadap langkah kebijakan strategi yang digunakan oleh kedua belah pihak teroris dan sasaran teror. Dan resiko logisnya penggunaan metodologi ini akan di anggap analisis yang obyektif dan rasional atau dianggap sebagai simpatisan teroris karena menganalisa secara kritis sasaran teror, di saat sasaran sedang menjadi korban. Penggunaan kerangka rasional penting karena mampu menjawab dua hal penting kondisi yang memunculkan dan kondisi yang meredam terjadinya teror.

Belajar paska penyerangan WTC di AS pada tahun 2001 silam dan bom yang terjadi baru-baru ini di Surabaya, mereka fokus menuduh islam sebagai penyebab terorisme namun abai pada faktor penyebab lain. Akhirnya solusi yang digelar justru melahirkan spiral kekerasan yang tidak berujung. Teroris dengan aksi terornya konfrontatif dalam wajah yang hampir sama, di Indonesia menempuh dua strategi kontra terorisme. Tapi keduanya terjebak dalam framework kultural paradigma jebakan, mengidentifikasi kekerasan dan teror inheren dalam Islam dan kelompok-kelompok yang di cap radikal. Akibatnya baik strategi hard power maupun soft power yang diemban kepolisian dan BNPT seperti menjadi pemantik kekerasan demi kekerasan. Karena menempatkan kelompok-kelompok radikal secara general sebagai ancaman aktual dan potensial. Pendekatan soft power-nya melahirkan kontraksi pemikiran dan membuat kutub radikal-liberal makin kontradiksi. strategi ini mengandalkan persuasi daripada kekerasan, fisik maupun kata-kata. Sejauh pengamatan penulis, baik BNPT dengan satgas penindakannya maupun kepolisian, tersirat lebih condong hanya menggunakan hard-power. Dan pendekatan hard power yang mengesampingkan kaidah-kaidah hukum makin membuat antipati terhadap nilai keadilan. Maka belajar dari kasus-kasus teror yang muncul, sejatinya lebih dominan sebagai bentuk respon dan interaksi antara pelaku teror terhadap pemerintah, Dalam hal ini institusi kepolisian RI Dan dendam menjadi stimulan meski doktrin agama tetap menjadi bumbu pelengkap dari pilihan aksi teror yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang. Dari perspektif ini saya melihat beragamnya kelompok Islam yang dicap radikal tidak otomatis, mereka adalah kontributor bahkan menjadi inspirator utama lahirnya tindakan terorisme. Kelompok radikal sendiri dinamika perjuangannya dalam dua arus besar, radikal pemikiran dan ada yang radikal fisik atau aksi. Tidak pasti sebangun dan korelatif bahwasanya individu dan atau kelompok yang radikal pada aspek pemikiran kemudian menjadi radikal dalam aksi atau tindakan. Meski keduanya ditemukan spirit yang sama bahwa eksistensinya seperti respons terhadap sergapan sekularisme dan modernitas yang agresif, yang dianggap bukan saja meminggirkan agama sebagai sekadar urusan pribadi tetapi juga untuk memelihara agama dari pemusnahan oleh sekularisme dan modernitas itu.

Maka tumbuhnya individu-individu dan kelompok-kelompok yang di cap radikal dengan ideologi yang dikembangkan maupun sikap bias dalam merespon perkembangan yang dianggap menyimpang dari agama hanyalah satu faktor di samping faktor-faktor struktural, kultural, dan situasional yang memicu lahirnya tindakan kekerasan terorisme. Jika memaksa memposisikan kelompok Islam radikal sebagai akar terorisme itu sama artinya terlalu over simplikasi dan generalisasi tanpa verifikasi secara kongkrit. Dan tidak salah jika kemudian kelompok radikal merasakan terzhalimi secara sistemik baik dalam skala domestik maupun global. Sebagai contoh di Indonesia cukup eksis seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang baru saja dibubarkan, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Laskar Jihad (Forum Komunikasi Ahlussunnah Waljamaah), dan kelompok underground lainnya yang dianggap sebagai kelompok radikal dari kelompok sekuler liberal seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) dan kelompok lain yang memiliki agenda sama dan lain-lain.

Namun yang perlu dicatat bahwa kelompok radikal di atas tidak otomatis akan melakukan aksi terorisme sebagai metode perjuangannya. Dengan kata lain, pemahaman terhadap asal sosial sangat penting. Jika tidak, modus BNPT dan kepolisian kepada kelompok-kelompok Islam radikal hanya akan melahirkan fenomena terorisme tetap dengan kompleksitasnya, tidak ada faktor tunggal yang menjadi pemicunya. Sekalipun di Indonesia tumbuh kelompok radikal yang mengambil metode fisik perjuangannya, tetap saja variabel pelengkapnya harus ada untuk bisa memunculkan sebuah aksi yang kemudian di cap sebagai terorisme.

Jadi fenomena terorisme bukan sekadar problem kultural interpretasi teks langit maupun teks historis, dinamika politik domestik yang represif dan memarginalkan kelompok yang berbuah sikap dan tindakan. Tapi juga problem rasional, faktor politik global dan domestik serta langkah-langkah penanganan teror yang tidak humanis. Penanganan teror yang terjadi membuat luka dendam Karena demonstrasi ketidakadilan dan sikap arogansi aparat menjadikan dendam mengendap dalam skala komunal. Selain faktor kesejarahan dan ideologi, faktor kebijakan negara yang sangat represif terhadap kelompok Islam juga dianggap berperan penting yang mendorong kelompok Islam berpotensi melancarkan aksi terror. Represi yang brutal oleh rezim menjadi faktor terpenting yang melahirkan aksi-aksi teror dari kelompok Islam yang ditindas dengan kejam. Dalam sebuah moment di mana seluruh ruang untuk berpartisipasi tertutup rapat dan terjadi penindasan terus menerus, maka satu hal yang mungkin terjadi adalah perlawanan dalam bentuknya yang paling ekstrim terorisme. Jadi langkah bijak untuk meredub bahkan mengaborsi terorisme di Indonesia adalah pemerintah dengan sadar dan serius plus kapasitas dan instrumen yang dimilikinya bekerja menjawab faktor-faktor penyebabnya secara komprehensif.

Selanjutnya, gangguan yang ditimbulkan terorisme sebagian besar timbul karena pemberitaan yang berlebihan. Kelompok teroris dan media bekerjasama dalam hal ini. Ketika banyak masalah lebih penting, mendesak, dan menyangkut nyawa lebih banyak manusia perlu ditangani, sementara sumber daya sangat terbatas, kenapa terobsesi dengan terorisme. Dengan pendekatan metodologi analisis kerangka rasional juga mengharuskan adanya evaluasi terhadap dua strategi pokok langkah kontra-terorisme yang diemban oleh aparat kepolisian dan BNPT. Jika tidak, maka saya mengeja fenomena terorisme di Indonesia tidak akan pernah ada ujungnya. Terorisme di Indonesia di samping ada dimensi ideologi, juga memuat kepentingan proyek ekonomi, politik bahkan terkait kemaslahatan dan yang pasti Indonesia akan menjadi lahan subur reproduksi “teroris” baik oleh jaringan target kontra terorisme dalam rangka menuntut balas (qishas) maupun permainan intelijen gelap untuk menjaga proyek kontra terorisme eksis keberlangsungannya.

Penulis adalah Kader HMI cabang Banda Aceh Mazhab Agapolisme.

News Feed