oleh

LIMFISA Mengecam Tindakan Terorisme di Surabaya

Surabaya, Baranewsaceh – Kasus-kasus terorisme di Indonesia tampak belum dapat diantisipasi secara maksimal oleh pemerintah, pasca tragedi bom Plaza Sarinah 2016 lalu, dan kejadian yang terjadi di mako brimob beberapa waktu yang lalu, namun aksi teror kembali terjadi, bom kembali meledak di tiga tempat di Surabaya. Minggu, (13/05/2018).

Bom meledak di lokasi dan momen yang strategis, Yakni di tempat ibadah dan pada saat saudara-saudara dari umat Kristen dan Katolik bersiap melakukan ibadah minggu pagi.

Bom meledak di tiga gereja pada minggu pagi sekitar pukul 07.00 WIB, Bom meledak pertama kali di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Nganggel, Surabaya. Kemudian bom meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro. Terakhir bom meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna.

Dalam hal ini M. Afif al-Ayyubi selaku Presiden LIMFISA (Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia) menyatakan “Terorisme lahir dari pemahaman agama yang salah, sering kali ia diproduksi dari pemikiran-pemikiran eksklusifisme agama. Padahal sejatinya, tidak ada agama apapun yang mengajarkan terorisme. Maka nilai-nilai pluralisme dan toleransi antar agama harus diperkuat oleh bangsa ini,”ungkapnya.

“Terorisme dan kekerasan, di samping sangat bertolak belakang dengan kearifan lokal (local wisdom) budaya- budaya di Indonesia yang multikultural, ia juga sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa, terutama sila pertama, kedua, dan ketiga. Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memeluk agama menurut keyakinannya, kemanusiaan yang adil dan beradab memberikan jaminan dan penghargaan terhadap harkat martabat kemanusiaan yang diwujudkan dengan penghargaan terhadap hak azasi manusia, dan persatuan Indonesia menempatkan persatuan bangsa Indonesia di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.”katanya Afif Al ayyubi

Berdasarkan perkembangan terkini dari pihak berwenang, ketiga insiden itu menewaskan setidaknya 10 orang dan melukai 41 orang. Pelaku bom bunuh diri diduga dilakukan satu keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anaknya.

Ia juga menambahkan “Saya mewakili seluruh keluarga besar LIMFISA menyatakan “turut berduka cita atas jatuhnya korban teror di Surabaya, semoga sanak keluarga korban diberi ketabahan, kami mengutuk terorisme di manapun dengan alasan apapun, tidak ada agama yang mengajarkan terorisme dan semua agama mengutuknya, dan mendukung Kepolisian Republik Indonesia untuk mengusut tuntas pelaku dan seluruh aktifitas terorisme di Indonesia, kami menghimbau masyarakat untuk tetap melawan aksi terorisme dan paham-paham radikalisme, juga kami menghimbau masyarakat untuk tetap kondusif dan tidak takut terhadap aksi-aksi terorisme,”tutupnya. (red)

News Feed