oleh

‌Belum Tuntas. Nasip Aksara Gayo Masih Terkatung- Katung

 

Takengon. Baranewsaceh.co – Siapa yang tidak kenal dengan pria yang satu ini, namanya Bentara Linge, waktu kecil ia kerap disapa masyarakat Linge Aceh Tengah dengan panggilan Item Angut.
Pria kelahiran Buntul Linge 22 April 1962 persis didekat telege Linge ini sering mengisi kegiatan-kegiatan keadatan baik ditingkat Kampung maupun tingkat Kabupaten.

Ia merupakan salah satu pria yang mencetuskan Rasi Gayo (Aksara Gayo)  tulisan purbakala nenek moyang orang Gayo pada Zaman dahulu kala.
Aksara Gayo yang ia cetuskan itu berujung pada kegiatan seminar bekerjasama dengan Dinas Perpustakan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Aceh Tengah.

Namun, Pria yang memiliki 3 buah hati ini (2 Putra, 1 Putri) masih menunggu proses penelitian lebih lanjut tentang Aksara Gayo melalui penelitian Arkeology dan Filology
Hal tersebut katanya sangat membutuhkan biaya yang begitu besar, jika anggaran itu dikeluarkan dari Dompet pribadinya ia merasa tidak sanggup, bahkan rumah dan tanah yang ia miliki jika dijualpun tidak akan tercukupi.

“Demi Aksara Gayo ini saya rela menjual aset yang saya punya, namun jikapun itu saya jual semua tidak akan cukup, harus melalui anggaran Pemerintah Daerah di Gayo,” ungkapnya.

Aksara Gayo itu merupakan salah satu kekayaan daerah, dalam hal ini Kabupaten Aceh tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara secara umum milik suku Gayo, sama halnya seperti Daerah lain yang ada di Indonesia ada yang memiliki aksara tersendiri, aksara yang ia cetuskan itu katanya tidak ada kesamaan dengan Daerah lain yang ada di Indonesia bahkan Dunia.

Suami dari Warni Putri Puja Kesuma kelahiran Sumatera Utara ini sangat berharap Pemerintahan di Gayocdapat melanjutkan tentang temuanya yang telah ia pelajari beberapa Tahun yang lalu, bahkan ia juga telah mengajarkan kepada beberapa rekanya untuk mempelajari tulisan tersebut.

“Untuk di Aceh Tengah sudah ada Generasi yang bisa melanjutkan temuan saya ini,” Terang Bentara Linge.

Ia juga sudah mensosialisasikan tulisan Aksara Gayo itu kepada Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)  Gajah Putih Takengon, Kampus UGP Takengon, Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon dan Kampus Alwasliyah Takengon.
Tak tanggung-tanggung akhir-akhir ini ia berjuang keras melalui event Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-VII Tahun 2018 yang berlangsung di Banda Aceh beberapa bulan yang lalu ikut dilibatkan untuk menjadi peragaan di Anjungan Aceh Tengah
Aksara itu disosialisasikan kepada pengunjung yang hadir baik dalam maupun luar daerah, bahkan banyak pengunjung yang hadir keanjungan tersebut meminta untuk menuliskan namanya dengan tulisan Aksara Gayo itu kedalam media Gantungan Kunci yang telah disiapkan.

“Ini bukan kepentingan pribadi, melainkan kepentingan Suku Gayo selaku Suku tertua di Aceh bahkan Nusantara, penting kiranya menjadi perhatian serius sebelum di ambil alih oleh daerah lain,” papar Bentara, sembari mengaku saat ini ia tidak lagi ambil pusing tentang temuanya itu, bahkan ia merasa pasrah.

Pasrah dalam hal ini bukan menyerah, melainkan temuanya itu dikembalikan kepada orang Gayo apakah dilanjutkan atau hanya cukup sampai disini.
Perlu menjadi ingatan kata Bentara, baru dikatakan suku yang paripurna, ada wilayah, ada manusianya ada kepercayaanya ada adat dan budayanya ada bahasanya dan ada aksaranya, pernyataan itu ia kutip dari ungkapan Almarhum Dr.Mahmud Ibrahim saat kegiatan Focus Group Discusion (FGD) di Hotel Penemas Takengon Tahun 2017 silam.

Ia meminta kebijakan Pemerintah di Gayo bukan hanya Aceh Tengah sebagai Kabupaten induk, melainkan Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara untuk menghadirkan tim peneliti baik dalam maupun luar daerah.

“Jika menurut janji yang pernah disampaikan dari delegasi masing-masing Kabupaten dalam seminar Rasi Gayo di Pendari Tahun 2017 silam, akan menindak lanjuti temuan ini, namun hingga saat ini masih terkatung-katung,” tegas Bentara Linge
Bahkan Bentara Linge juga menuturkan, ia telah membaca surat terbuka dari salah sorang tokoh Gayo yang kini menetap di di dataran Eropa, Director Institute for Ethic Civilization Research, Denmark, Yusra Habib Abdul Gani
Berikut isinya dilansir dari media Lintasgayo.co

Surat Terbuka

Yang kami hormati Panitia penyelenggara Seminar Aksara Gayo (24 Oktober 2017)

Gedung Inen Mayak Tri, Takengen, Aceh Tengah.

Assalamualaikum,

Setelah selesai Seminar ini, kami mengusulkan supaya DPRK Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Tenggara; segera membahas dan mengeluarkan qanun tentang peraturan yang mengatur bahwa seluruh nama kantor pemerintah, Swasta, nama jalan, pertokoan, dll di tempat umum, khususnya di 4 Kabupaten, selain ditulis dalam bahasa Melayu/Indonesia juga menulis dengan aksara gayo di bagian bawah.

Terima kasih

Yusra Habib Abdul Gani

(Director Institute for Ethic Civilization Research, Denmark.)

23 October 2017.

Menanggapi surat itu Bentara Linge mengaku hingga saat ini lanjutan dari surat tersebut belum terealisasi hingga saat ini, bahkan Pemerintah di Gayo masih diam-diam saja tanpa ada tindak lanjut sama sekali.

“Ini adalah Identitas yang sangat penting untuk dikembangkan, jangan ragu-ragu,dimungkinkan dapat disahkan menjadi Aksara milik orang Gayo” tutup Bentara Linge
Hingga saat ini dipastikan puluhan masyarakat di Gayo telah mampu menulis, mengajarkan dan membaca Aksara Gayo secara jelas dan mudah dipahami. Diantara nama-nama yang diingat oleh Bentara yaitu, sahabat dekatnya yang ikut memperjuangkan temuan Aksara Gayo, Segertona Gayo, beberapa lagi diantaranta Zulpan, Amna, Sosa Irza Yuliana, Sari Murni, Suwito, Pika Nemahara, dan ada beberapa orang lagi ia lupa nama. Rilis Karm. (Sarman)

image_pdfimage_print

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed